Kerukunan Minus Kebebasan: Diskusi Publik Kebebasan Beragama dan Harmonitas Hubungan Umat Beragama di Sumatera Utara

“Kerukunan minus kebebasan”, barangkali penggalan kata-kata tersebut cukup tepat diambil sebagai kesimpulan diskusi publik yang dilaksanakan Jaringan Islam Kampus (JarIK) simpul Medan Sumatera Utara bekerjasama dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) pada tanggal 28 Desember 2010 yang lalu di Aula Pusat Bahasa IAIN Medan. Disuksi yang juga didukung oleh salah satu lembaga non struktural di IAIN Medan tersebut, Pusat Kajian Hubungan Antar Umat Beragama (PK-HUB) IAIN SU, menghadirkan tiga orang nara sumber, yaitu: Ulil Abshar Abdalla (JIL); Dr. Sulidar, MA (Dosen Fak. Ushuluddin IAIN SU); dan, Dr.Phil. Zainul Fuad (Institute for Peace and Human Right IAIN SU). Diskusi ini dipandu oleh Kordinator JarIK simpul Medan-Sumatera Utara, Eko Marhaendy, dan berlangsung selama dua jam lebih.

Seperti disampaikan moderator ketika mengawali diskusi, dilaksanakannya kegiatan diskusi ini berawal dari kesadaran bahwa Sumatera Utara memiliki problem dilematis dalam aspek kebebasan beragama dan berkeyakinan, padahal Sumatera Utara dianggap sebagai “model kerukunan nasional” sesuai pernyataan Presiden SBY pada tahun 2007 ketika berkunjung ke Sumatera Utara. Tapi, jika harus jujur, tidak secara otomatis kondusifititas kerukunan yang menjadi predikat Sumatera Utara menunjukkan keadaan yang sama jika ditelisik dari aspek kebebasan beragama. Karena, seringkali alasan ‘menjaga kerukunan’ justeru menjadi penghambat bagi terwujudnya kebebasan beragama.

Kegiatan diskusi yang memilih tema “Dilema antara Kebebasan Beragaa dan Harmonitas Hubungan Umat Beragama: Potret Sumatera Utara” tersebut, didiskusikan dengan menyajikan tiga materi pokok, yaitu: “Islam dan Kebebasan Beragama: Akar-akar Pluralisme dalam Sejarah Islam” yang disampaikan Ulil Abshar Abdalla; Harmonisasi Hubungan Antar Umat Beragama, disampaikan oleh Dr. Sulidar; dan, “Titik Singgung Kebebasan Beragama dan Harmonitas Hubungan Umat Beragama yang disampaikann oleh Dr.Phil. Zainul Fuad. Meski diskusi ini melibatkan dua orang pembicara daerah (Medan), sangat disayangkan materi yang disampaikan oleh dua nara sumber daerah tersebut dirasa belum mampu mengcover kondisi riil kebebasan beragama dan berkeyakinan di Sumatera Utara. Namun demikian, hal tersebut tidak mengurangi daya tarik diskusi ini ditandai dengan antusiasme para peserta yang terlibat dalam menyampaikan berbagai pandangannya.

Diskusi diawali dengan paparan materi yang disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla. Dalam paparannya, Ulil menekankan pentingnya kehati-hatian ketika membaca sejumlah hal dalam sejarah Islam berdasarkan standar yang dipakai saat ini. Seringkali umat Islam terjebak dalam anakronisme sehingga mengakibatkan kesalahan dalam pembacaan masa lampau untuk konteks kekinian. Ulil mencontohkan kasus demokrasi yang kerap kali dicari-cari dasarnya dalam ajaran Islam sementara demokrasi itu sendiri merupakan produk budaya modern. Ulil menyimpulkan paparannya dengan mengutip pandangan Fazlurrahman yang mengatakan “cara terbaik untuk memahami ajaran Islam adalah memandang setiap doktrin di dalam Islam dalam konteks zamannya sembari mencari nilai-nilai dasar doktrin maupun ajaran tersebut untuk ditransfer dalam konteks kekinian.

Dalam bahasan yang berbeda, Dr. Sulidar menegaskan melalui materi yang disampaikannya, bahwa Islam merupakan konsep universalitas yang mengandung ajaran kedamaian. Meski bahasan yang disampaikannya kurang concern pada materi yang ditetapkan, tampak berbagai pernyataannya memperkuat atau menegaskan kembali hal-halyang telah disampaikan Ulil Abshar sebelumnya.

Sementara itu, Dr.Phil. Zainul Fuad, yang diminta untuk memaparkan titik singgung kebebasan beragama dan harmonitas kerukunan umat beragama yang diharapkan dapat menggambarkan kondisi Sumatera Utara tampaknya belum menyampaikan gagasan yang maksimal. Ia hanya mengupas sedikit problem kebebasan beragama dalam konteks yang lebih global. Menurutnya, Indonesia tidak memiliki konsep Freedom Religion, tapi yang lebih tepat adalah Religious Freedom. Meski demikian, beberapa hal dari paparan yang disampaikannya menyinggung beberapa fenomena tentang kehidupan keagamaan di Sumatera Utara, seperti misalnya: kelompok-kelompok minoritas yang masih tetap eksis di Sumatera Utara.

Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 100-an orang yang datang dari berbagai kalangan, seperti: dosen dan civitas akademis IAIN Medan, Mahasiswa, Anggota LSM, Jama’ah Ahmadiyah, serta tenaga guru ini, memberikan kesempatan Tanya jawab bagi para peserta. Meski kuota peserta dipecah dari berbagai elemen, dalam sesi Tanya jawab tampaknya peserta dari kalangan HTI lebih banyak mendominasi dengan berbagai kritik yang disampaikan, khususnya tentang konsep demokrasi yang disampaikan Ulil Abshar Abdalla. Meski demikian, kritik-kritik yang cukup kontras mewarnai diskusi ini tetap diimabangi dengan pandangan peserta lainnya, seperti salah seorang peserta yang merupakan pengurus Jama’ah Ahl Bayt yang berpandangan bahwa “harmonitas hubungan umat beragama hanya mungkin dicapai dengan kebebasan beragama”.

By: Eko Marhaendy

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: