Puasa dan Kesalehan Sosial

Oleh: Mhd. Noor Sitorus

Ada yang menarik dan penting untuk kita perhatikan pada tatanan keberagamaan di masyarakat kita belakangan ini, khususnya pada tiap datangnya bulan suci ramadhan. Semarak ritual agama tampaknya begitu meriuh redah mewarnai hampir setiap sudut kota pada setiap datanganya bulan suci tersebut, bukan hanya sampai di situ saja, bahkan tayangan-tayangan yang dihadirkan oleh stasiun televisi pun hampir secara keseluruhan seolah begitu bergairahnya menghadirkan tontonan-tontonan Islami. Masyarakat Indonesia kelihatannya begitu menikmati dan menyemarakkan kegiatan untuk mengisi ramadhan dengan berbagai aktifitas bernada religi; dari mulai festival tabuh beduk sampai pusat jajanan berbasis Islam dan sinetron-sinetron religi. Sepintas lalu semua itu menggambarkan masyarakat Indonesia memang telah benar-benar menjalankan sunnah nabi untuk selalu bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan.

Menariknya, padatnya ragam kegi -atan yang menjejali bualn ramadhan tersebut, tenyata tidak berimplikasi langsung terhadap tatanan keshalehan sosial yang diharapkan. Sering kali ternyata semarak ramadhan tersebut lalu sekonyong-konyong tergilas habis tak tersisa sejalan dengan berakhirnya ra- madhan tersebut. Substansi ramadhan sebagai “bulan pembakar” dan “ Bulan pendidikan” bagi kehidupan tampaknya tereduksi hanya pada praksis individualistik yang egois

Puasa yang menjadi ritual pamungkas dalam melahirkan as-shooim (orang yang menjalankan ibadah puasa) ter- nyata gagal menjalankann misinya meskipun diklaim telah dilaksanakan sebulan penuh. Ritual keagamaan (pua- (puasa) yang dijalankan berorientasi pada kepentingan transendentalnya dan melupakan aspek soilogies yang sebenarnya justru menjadi substansi yang amat sangat diperlukan dalam ibadah tersebut.

Bila kita mencoba mencermati fenomena ini, sering kali kita akan menemukan di mana sebagian orang atau figure-figur yang teridentifikasi sebagi pelaku perbuatan moral ternyata menjadi begitu alimya ketika ramadhan datang, naifnya, para selebriti yang seringkali digambarkan sebagi komunitas yang mengalami dekadensi moral justru berubah menjadi penganjur kebaikan watak-watak yang religius ketika bulan ramadhan datang.

Mencoba memasuki lebih jauh tentang fenomena ini, kita dapat menarik kesimpulan akan adanya pengaruh logi- ka lapitalistik terhadap semmaraknya ritual keagamaan pada bulan ramadhan tersebut. Paket-paket ramadhan yang disediakan tampaknya bukan lahir atas kesadaran untuk mengisi bulan tersebut dengan berbagi kebaikan, namun justru memiliki dimensi kalkulatif matematis yang terorganisir dalam pragmatisme dan materialisme, bulan ramadhan dianggap sebagai pasar subur untuk menjual komoditas religius, naïf memang. Dengan ini terasa piciklah untuk menuntut perbaikan diri setelah ramadhan pada diri dan komunitas yang selama ini tergambar di hadapan kita.

Sebenarnya, posisi puasa semestinya justru hadir sebagai penggilas keadaan-keadaan yang seperti ini. Namun karena puasa sering kali dipahami dan dilakoni sebagai ritual formalistik legal saja, maka apa yang disebut sebagai substansi misi dari puasa itu pastilah tak kan pernah tersampaikan. Semestinya puasa mampu membebaskan paham determinasi material yang hedonis lalu menjadi momen kedatangan sikap saleh terhadap tatanan sosial yang ada. Puasa mestilah berdimensi transendental yang akrab dengan hubungan humanistis. Orang berpuasa mestinya sadar dan memahami bahwa rasa lapar dan dahaga serta penahanan keinginan yang ada padanya sebagai wujud untuk memahami dan merasakan keberadaan orang yang mungkin mengalami hal yang demikian itu.

Dari keadaan yang tergambar selama ini, ada beberapa pandangan yang mesti kita luruskan berkenaan dengan puasa. Yang pertama yakni pemahaman bahwa puasa bukanlah ritual yang hanya menjaga kepentingan pembersihan diri secara individualistik, puasa bukanlah psikoterapi tunggal yang akan dikatakan telah lahir kembali setelah tidak makan dan minum dari mulai Shubuh sampai maghrib, namun puasa adalah usaha membangun kesadaran mental untuk dapat lebih peduli pada kondisi sosial melalui pengekangan keinginan individual, artinya, puasa bernuansa individual tetapi hakikatnya berdimensi sosial.

Selain itu, puasa juga harus dipahami sebagai ritual yang kontinuitasnya bukanlah selama bulan ramadhan saja, faktanya sering kali orang melakukan puasa selama sebulan, lalu mengklaim bahwa puasanya telah dilaksanakan dengan sempurna, padahal, puasa hanyalah ritual awal yang penilaiannya justru dilakukan pada sebelas bulan setelah bulan ramadhan. Pemahaman kacau inilah yang sering kali mengakibatkan orang yang puasa sebulan penuh lalu merayakan Idul fitri dengan berfoya-foya tanpa mau melihat kondisi sosial yang sebenarnya adalah ujian dari puasanya selama satu bulan tersebut.

Melalui perubahan persepsi tentang puasa ini, diharapkan akan melahirkan puasa yang benar-benar menciptakan komunitas yang sadar akan kepedulian sosial dimana ia berada. Rangkaiannya adalah dengan memahami bahwa puasa itu adalah ibadah personal yang berimplikasi sosial. Dengan begitu, tampaknya cita-cita menjadikan puasa yang humanistik transendental bukanlah cita-cita kosong. Sebab dengan memahami puasa sebagai ibadah yang humanistik transendental maka orang yang berpuasa akan memahami bahwa puasanya akan bernilai dihadapan Tuhan (good transendetally) jika hubungan humanistisnya (hablumminan- naas) berjalan dengan baik.

* Penulis adalah anggota JarIK Medan-Sumut

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • zue  On April 15, 2009 at 4:19 am

    dari tulisan ini tidak mengkaitkannya dengan riwayat Nabi Muhammad Saw. sebenarnay Islam tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Islam itu Rahmatan Lil Alamin. Manusia akan masuk nerakanya ALLAH SWT jika Islam itu dikaji sejara Rasional saja. Naudzu billahi Minzalik.

    • Salman Nasution  On Januari 4, 2010 at 11:14 am

      zue…ente mo apalagi….uda cocok apa yang disampaikan oleh M. Noor…tapi masalahnya si Noor nya uda berubah ato hanya cakap aja….kalo cakap…anak2 juga bisa cakap…

  • Salman Nasution  On Juni 10, 2009 at 4:14 am

    ketika kita mengomentari sesuatu tanpa ilmu akan menjadi finah bagi kita dalam mentransfers suatu ilmu. padahal Sang ‘Alim pernah ngomong yang artinya jangan kamu meninfo kan sesuatu sebelum kamu memahaminya.
    biarkan aja puasa dianggap masyarakat dunia bahwa puasa itu ritual yang sifatnya dianggap kebiasaan.
    tapi Allahkn manggil untuk orang2 yang beriman. kan tak masalah manusia menganggap bahwa puasa itu ritual.
    beda antara insan, iman, abdi, taqwa, kafir.
    ketika insan berpuasa atau tidak berpuasa kan tak masalah….
    tapi ketia yang beriman tak puasa itu masalah karena ada kata “kutiba” yang akhirnya dia bertaqwa

  • siti halimah  On Juli 15, 2009 at 3:43 pm

    pemikiran yang cerdas diperlukan untuk menyikapi berbagai macam persoalan hidup,untuk mengkritisi keadaan……………
    ide kamu lumayan menarik, tapi menurut saya tolong dong argumen nya lebih di pertegas lagi………….salam kebebasan

  • trizaliputra  On Februari 13, 2012 at 3:30 pm

    Sebenarnya setiap bulan Ramadhan datang, bagi orang-orang Muslim yang melaksanakan puasa ramadhan dengan Iman dan penuh dengan ke-ikhlasan maka selepas itu pasti ada peningkatan kwalitas ketaqwaan seseorang khususnya bagi orang-orang islam yang benar-benar beriman. Jika seseorang yang melaksanakan puasa ramadhan, sama sekali tidak pernah merasakan peningkataan tsb. maka keimanannya masih perlu dipertanyakan.
    Selain itu bahwa diperintahkan oleh Allah kepada kita (yg beriman) utk puasa selama bulan ramadhan, dimaksudkan bukan hanya untuk membangun kesadaran mental utk dapat lebih peduli pada kondisi sosial saja.Itu hanya sebagian kecil dari maksud dan tujuan. Saya kira penulis masih perlu banyak mengkaji lagi, lah sebelum banyak menulis dimedia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: