Memahami Kitab-kitab “Suci” Secara non-Apologetik

Oleh: Ulil Abshar Abdalla

Saya sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.

Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira” (4:82). Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.

Hal serupa juga ada pihak Kristen (dan juga Yahudi). Saya banyak sekali menjumpai buku-buku apologetika Kristen (juga Yahudi) yang menunjukkan adanya sejumlah pertentangan internal dalam Quran. Maryam Jameelah, seorang perempuan Yahudi dari New York yang semula bernama Margaret Marcus, menceritakan proses dia masuk Islam (pada tahun 1961) dalam bukunya “Islam versus West”. Di sana ia berkisah tentang kelas yang ia ikuti di New York University tentang “Judaism in Islam” yang diampu oleh seorang rabbi bernama Abraham Isaac Katsh. Rabbi itu mencoba menunjukkan kelemahan Quran sebagai kitab yang sekedar menyontek saja dari Torah atau Perjanjian Lama.

Saya memandang sikap apologetik seperti itu kurang tepat, bahkan hanya menimbulkan perceckokan yang kurang produktif dan kleim paling benar sendiri yang menghalangi adanya dialog yang positif.

Tanpa mengurangi penghormatan saya pada kepercayaan teman-teman lain mengenai Quran, sejuah menyangkut kontradiksi, dalam Quran banyak sekali kita jumpai kontradiksi dan pertentangan internal. Bukan hanya itu, dalam hampir semua Kitab “Suci” selalu akan kita jumpai kontradiksi semacam itu. Tugas penafsirlah untuk melakukan “harmonisasi” agar pertentangan itu bisa “dihaluskan” (explained away) atau malah dihilangkan sama sekali.

Orang yang datang dari luar tradisi Islam (terutama orang Kristen), misalnya, dan ujug-ujug langsung membaca Quran, kemungkinan akan terperanjat, karena Quran di matanya boleh jadi mirip sebuah “jumble mumble”, atau kitab yang sama sekali tanpa struktur, temanya loncat-loncat tanpa aturan, seperti sebuah buku yang tak diedit dengan baik, dan mengandung banyak kontradiksi di dalamnya. Dia akan cenderung membandingkan Quran dengan Kitab Perjanjian Lama yang lebih memiliki struktur naratif yang rapi.

Hal yang sama terjadi pada orang yang datang luar tradisi Kristen (misalnya seorang Muslim), lalu ujug-ujug membaca Kitab Perjanjian Lama atau Baru, boleh jadi dia akan menjumpai sejumlah kontradiksi internal dalam kitab itu, apalagi menyangkut gambaran Tuhan dalam Perjanjian Lama yang, mohon maaf, tampak aneh dan sama sekali tak masuk akal.

Kontradiksi itu akan makin menjadi-jadi kalau kita membaca kitab agama lain dengan prasangka buruk, apalagi dengan niat untuk mencari kejelekannya, seperti yang dilakukan oleh banyak kalangan apologetik dari, terutama, kedua belah agama, Islam dan Kristen.

Di mata orang beriman, kontradiksi itu memang tak kelihatan, karena yang bersangkutan sudah dikondisikan oleh imannya untuk mempercayai apa saja yang termuat dalam kitab tersebut. Seorang Muslim yang membaca Bibel bisa melihat kontradiksi dalam kitab itu karena dia tak “mengimani”- nya sebagaimana ia mengimani Quran. Begitu juga seorang Kristen bisa melihat kontradiksi dalam Quran karena dia tidak mengimani Kitab “Suci” tersebut.

Memang benar, sorang Muslim percaya bahwa kitab-kitab sebelum Quran bersumber dari Tuhan yang sama. Tetpi, iman mereka pada kitab-kitab itu tak sama dengan iman mereka pada Quran. Meskipun mereka mengimani Bibel, tetapi mereka memandang Kitab “Suci” itu sebagai buku yang “defektif” atau cacat.

Bagaimana cara membaca Kitab “Suci” agama lain tanpa harus berhadapan dengan kontradiksi itu? Caranya adalah sederhana: gunakanlah kaca-mata orang yang mengimani Kitab “Suci” itu. Seorang Muslim yang hendak mendapatkan manfaat dari Bibel saat membacanya, dan tak sekedar terpaku pada kontradiksi yang ada di sana, dia harus membaca kitab itu dengan “hati” dan “mata” sebagaimana dipakai oleh orang Kristen saat membacanya. Hal ini berlaku juga untuk orang Kristen yang hendak membaca Quran dan ingin mendapatkan sesuatu yang berguna dari sana, tanpa terjebak dalam kontradiksi yang ia lihat di sana.

Nasehat sosiolog besar dari Perancis, Emile Durkheim, kepada para sarjana yang hendak mengkaji agama bisa kita pertimbangkan di sini:

“What I ask of the free thinker is that he should confront religion in the same mental state as the believer… He who does not bring to the study of religion a sort of religious sentiment cannot speak about it! He is like a blind man trying to talk about colour”. (hal. xvii, dikutip dari pengantar Karen E. Fields atas karya utama Durkheim, “Elementary Forms of Religious Life”).

Dengan kata lain, membaca suatu Kitab “Suci” dari agama manapun, kita harus memiliki “religious sentiment” –meminjam istilah dari Durkheim itu– sebagaimana dimiliki oleh orang yang mengimani kitab itu. Jika kita kehilangan sentimen itu, maka kita akan melihat sejumlah pertentangan dalam kitab tersebut.

Jika anda kebetulan seorang Muslim, cobalah sekali-kali anda membaca Quran dengan mengambil “jarak” sebentar, mencoba keluar dari sentimen keimanan yang selama ini anda miliki.

Dalam keadaan sebagai seorang “skeptis sementara” itu, anda akan menjumpai sejumlah hal yang kontradiktif dan tak masuk akal dalam Quran. Sebagai contoh saja, dalam satu ayat dikatakan bahwa Tuhan tak menyerupai apapun, laisa kamitslihi syai’un (42:11), tetapi dalam banyak ayat yang lain Tuhan digambarkan memiliki tangan, wajah, bahkan dalam hadis digambarkan pula memiliki jari-jari (ashabi’ al-rahman).

Jika orang Islam keberatan dengan penggambaran tentang Tuhan yang “brutal” dan sangat antropomorfis dalam, misalnya, Perjanjian Lama, maka mereka sebetulnya lalai bahwa dalam Quran juga kita jumpai penggambaran yang kurang lebih serupa: Tuhan yang “brutal” dan antropomorfis.

Bagaimana umat Islam bisa melewatkan begitu saja kisah tentang Nabi Nuh tanpa bertanya-tanya secara “kritis”: bagaimana mungkin Tuhan menenggelamkan seluruh umat manusia hanya karena mereka tak beriman kepada Nuh dengan sebuah banjir besar yang melanda begitu hebat? Apakah reaksi Tuhan semacam ini tidak keterlaluan? Mana sifat belas-kasih Tuhan? Okelah, Tuhan memang mempunyai sifat adil dan pengazab, selain bersifat rahman dan rahim (kasih sayang).

Tetapi apakah azab Tuhan mengirim banjir begitu hebat untuk mengazab seluruh manusia hanya gara-gara segelintir manusia tak beriman kepada Nabi Nuh, apakah azab seperti itu proporsional? (Jawan seseorang yang memiliki sentimen keagamaan tentu sudah bisa kita tebak: rasio manusia tak mampu memahami tindakan Tuhan).

Banyak hal dalam Quran yang bisa kita persoalkan secara “kritis”, kalau kita mau sebentar melepaskan diri dari sentimen keimanan sebagai seorang Muslim. Itulah yang terjadi pada seorang Muslim yang membaca Bibel: karena mereka tak memiliki sentimen keagamaan seperti dimiliki oleh umat Kristen, maka mereka menjumpai banyak sekali kontradiksi dalam Kitab “Suci” itu, seraya lupa bahwa kontradiksi serupa bisa dijumpai dalam Quran.

Sementara itu, jika anda berdiri sepenuhnya sebagai seorang agnostik tulen yang tak terikat atau malah skeptik terhadap semua bentuk sentimen keimanan apapun, maka anda sudah pasti akan “sinis” pada semua Kitab “Suci”, sebab kitab agama manapun akan mengandung hal-hal yang di mata rasio yang kritis akan tampak kontradiktoris dan tak masuk akal.

Apalagi jika kita perhitungkan bahwa semua Kitab “Suci” agama-agama dunia saat ini lahir ribuan tahun lalu. Ilmu pengetahuan manusia maju begitu pesat dan mereka bisa menjelaskan secara lebih memuaskan gejala-gejala alam yang di mata manusia kuno tampak misterius dan fantastik. Di hadapan rasio manusia modern yang skeptik, jelas Kitab-Kitab “suci” itu tampak seperti dongeng anak-anak. Contoh paling bagus untuk ini adalah dua sarjana yang akhir-akhir ini melakukan “crusade” melawan agama-agama dunia, yaitu Richard Dawkins dan Sam Harris.

Lihatlah kisah tentang Musa yang menyeberangkan orang-orang Israel melewati Laut Merah dengan memakai tongkatnya. Jika seseorang sebentar melepaskan diri dari sentimen keagamaan lalu membaca kisah itu dalam Perjanjian Lama atau Quran, sudah pasti dia akan bertanya-tanya: apakah ini kisah nyata atau hanya dongeng belaka.

Seorang beriman tak pernah bertanya-tanya dengan skeptis seperti itu sebab mereka membaca kitab “suci” dengan “mata seorang beriman”. Thomas Aquinas, seorang teolog Kristen dari abad 13, dengan baik sekali mengemukakan hal ini dalam Summa Theologiae: “Believers proves things from the premises of faith” (hal. 329, dalam edisi terjemahan ringkas yang diedit oleh Timothy McDermott). Apa yang dimaksud oleh Aquinas sebgai “premis iman” itu adalah “the authoritative sources of sacred scripture”.

Dengan kata lain, syarat seseorang bisa mengapresiasi suatu Kitab “Suci” agama manapun adalah ia harus memiliki “mata iman”, atau, jika mau memakai kembali istilah Durkheim, “religious sentiment”. Begitu sentimen atau premis iman itu hilang atau tak ada, maka kitab “suci” akan tampak sebagai dokumen yang aneh.

Di mata saya, pertengkaran antara seorang Muslim apologetik dengan seorang Kristen yang juga apologetik untuk membuktikan bahwa Kitab “Suci” merekalah yang paling baik dan benar, jelas, mohon maaf, lucu. Sebab, sekali lagi, itu sama dengan tukang jamu yang semuanya teriak jamu yang dia jual lah yang paling baik.

Kembali lagi di sini, kita bisa belajar dari Durkheim. Dalam pengantar untuk karya besarnya di bidang sosiologi agama, “Elementary Forms of Religious Life”, Durkheim membuat sebuah pernyataan yang boleh jadi akan membuat semua orang beragama akan kaget seperti terkena setrum listrik. Durkheim mengatakan:

Fundamentally, then, there are no religions that are false. All are true after their own fashion: All fulfill given conditions of human existence, though in different ways (hal. 2).

Semua agama jelas benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua orang yang beragama merasa bahwa kebutuhan eksistensialnya sebagai manusia tercukupi dan terpenuhi oleh agama dan kepercayaan yang dipeluknya itu. Kalau pernyataan Durkheim ini mau kita tarik secara lebih spesifik ke dalam konteks diskusi saya mengenai Kitab “Suci”, maka semua Kitab “Suci” adalah benar dengan caranya sendiri-sendiri. Semua pemeluk agama yang memiliki “religious sentiment” akan melihat Kitab “Suci”-nya itu sebagai paling baik dan benar.

Nada tulisan Durkheim itu memang tampak sangat relativis. Di mata saya, sikap ini jauh lebih sehat, karena dengan itu kita bisa mengapresiasi banyak hal, termasuk Kitab-Kitab “Suci” dari agama lain. Sikap ini lebih sehat ketimbang sikap apologetik yang, sekali lagi maaf, tampak seperti “katak dalam tempurung”. Jika kita menenggelamkan diri dalam tempurung, memang segala hal yang kita miliki tampak paling baik dan sempurna.

Sikap relativis Durkheimian itu mengajarkan kita untuk keluar dari tempurung sehingga kita melihat keluasan dunia di luar “dunia” kita sendiri yang selama ini kita peluk erat-erat dengan sentimen yang mendalam.

Dalam tulisan ini, saya selalu menulis Kitab “Suci” dengan tanda kutip pada kata “suci”. Saya sengaja melakukan itu, sebab Quran tidak pernah disebut sebagai Kitab Suci (al-Kitab al-Muqaddas) , baik oleh Quran sendiri, hadis, atau oleh ulama tafsir klasik. Sebutan “Kitab Suci” untuk Quran muncul pada era modern sekarang ini, mungkin karena pengaruh tradisi Kristen.

Sebutan Quran untuk dirinya adalah “Kitab Mulia” (al-Quran al-Karim), sebagaimana terbaca dalam ayat “innahu laqur’anun karim fi kitabin maknun” (56:77).

Oleh karena itu, istilah “The Holy Qur’an” sebetulnya tampak aneh. Bahkan istilah “Tanah Suci” (Holy Land) pun juga terdengar aneh dalam konteks Islam. Dua tanah yang selama ini dianggap suci, Mekah dan Madinah, lebih tepat disebut sebagai “Tanah Terlarang”, terjemahan harafiah dari istilah “haramain”, maksudnya dua tanah yang “haram” alias terlarang; bukan tanah suci. Disebut “terlarang” sebab orang yang tinggal di sana dilarang untuk memotong pohon atau membunuh hewan yang ada di dua tanah itu.

Istilah “haramain” mungkin lebih tepat dikaitkan dengan konsep “taboo” sebagaimana kita lihat pada agama-agama kuno.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Fauzi  On Maret 11, 2009 at 2:20 am

    Saya prihatin betul dengan tulisan saudara, sehingga saya bertanya2 dalam hati apakah penulisnya ini muslim atau bukan muslim. Tetapi yang bisa saya sadari apapun agama sang penulis, tentunya ia mempunyai keyainan bahwa tulisannya itu benar, menurutnya pandangannya terhadap islam yang seperti itulah yang benar.
    Saya berdoa dalam hati agar dijauhkan pemikiran saya dari pemikiran penulis. Saya selalu berdoa seharian dan juga dalam shalat agar diberikan petunjuk ke jalan yang benar.Walaupun dengan segala ikhtiar yang kita lakukan, tetapi Allah juga yang akan melihat keikhlasan ikhtiar dan niat kita, dan akan memberikan petunjuk atau kesesatan kepada kita. Sama saja yakinnya kita ketika diberi petunjuk atau kesesatan, bahwa semua yang kita lakukan adalah benar.
    “Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang2 kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang2 musyrikin tidak menyukainya. (QS.At-Taubah 32-33)

    • Salman Nasution  On Januari 4, 2010 at 11:47 am

      toh hari ini sama seperti dulu,….ada yang ISLAM, KAFIR, MUNAFIK…DLL…..TINGGAL BAGAIMANA KITA MENYIKAPI DIRI KITA AJA….ok…tinggal kita pilih yang mana jangan pernah takut…cukup dengan qur’an aja…

  • Salman Nasution  On Januari 4, 2010 at 11:41 am

    toh hari ini sama seperti dulu,….ada yang ISLAM, KAFIR, MUNAFIK…DLL…..TINGGAL BAGAIMANA KITA MENYIKAPI DIRI KITA AJA….ok

  • ya'kub  On Maret 14, 2011 at 2:49 am

    yah, namanya juga Ulil,…na’udzubillah…

  • Al1  On Februari 14, 2012 at 2:58 am

    Pak Ulil, anda ini beragama Apa ? Islam atau Non Islam. Seandainya anda Islam tidak mungkin anda akan berkata demikian.
    Pak Ulil, Allah maha melihat bukan berarti Allah mempunyai mata sperti kita, Allah mempunya kursi, namun tidak sperti kursinya Manusia, Allah mempunyai tangan namun tidak seperti manusia, itu adalah kata ganti dari keMaha Besaran Allah.

    Al-Qur’an tidak pernah dikatakan Kitab suci, tapi coba anda baca surat Al-Waqi’ah ayat 79( Laa Yamassuhu Illa Muthaharuun)
    Jika kita saja diwajibkan memegang Al-Qur’an harus suci baik dari hadast besar maupun kecil, apakah yang kita pegang (Al-Qur’an) tidak suci !!!

    wah kalo gini mah, bukan dikatakan Cendekiawan Muslim namanya, tapi cendekiawan non muslim

  • Anto  On Juli 23, 2012 at 10:02 pm

    Oh kowe pancen..ya..mas..kamu aja kl punya anak nakal durhaka,bagaimana reaksi org tua? macem2 mungkin sabar,lalu marah,lalu .,Palagi umat nuh yg gak beriman ky gitu,jan kowe mas kepinteren kowelah. jan.jaaan hih,hih..gejlik san gawe kowelah..u muslem,non muslim.or atheis heeh..gejlig kowe gejlig kowe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: