Melacak Kelahiran Muhammad: Sebuah Perspektif Sejarah Kritis

Oleh: Eko Marhaendy

Pada kesempatan sebelumnya, saya pernah menuliskan sebuah artikel bertajuk Sekedar Refleksi untuk 8 Juni (lihat di blog saya), dengan sebuah ide pemikiran bahwa 8 Juni – dalam perspektif penanggalan Masehi – pada prinsipnya merupakan momentum penting bagi umat Islam, namun kerap menganggapnya tidak begitu penting. Artinya, umat Islam pada umumnya hampir melupakan bahwa tanggal tersebut merupakan tanggal dimana Muhammad SAW wafat. Tanggal ini menjadi tidak begitu penting dikarenakan kebiasaan umat Islam menggunakan sistem penanggalan Hijriyah untuk mencatat pristiwa dan sejarah Islam. Padahal, sistem penanggalan tersebut secara resmi baru dimulai pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, enam tahun setelah wafatnya rasul.

Uniknya, 8 Juni ketika itu (632 Masehi) bertepatan dengan tanggal 12 Rabiwul Awwal tahun ke-10 Hijiriyah, satu tanggal yang telah menjadi budaya dikalangan umat Islam untuk merayakan hari kelahiran Muhammad SAW (maulid nabi). Pertanyaannya adalah: apakah tanggal kelahiran Muhammad yang bertepatan dengan tanggal wafatnya beliau merupakan sebuah kebetulan sejarah?, atau masih terdapat perselisihan serta kontroversi di dalamnya?. Tulisan yang saya beri judul “Melacak Kelahiran Muhammad” ini berupaya untuk menemukan jawabannya.

Kesamaran Sejarah Kelahiran Muhammad
Kalimat “melacak kelahiran Muhammad” mengandung konotasi ketidak jelasan kelahiran beliau. Artinya, jika kalimat ini digunakan sama halnya dengan meragukan tanggal 12 Rabiwul Awwal sebagai peringatan maulid nabi yang telah menjadi tradisi umat Islam dalam rentang sejarah yang panjang. Namun demikian, meletakkan Muhammad sebagai vigur sejarah mestilah menggunakan tinjauan serta analisis yang kritis. Dengan demikian, istilah ragu disini tidak menunjukkan kelemhan iman seseorang terhadap Islam. Hal ini perlu ditegaskan sebelumnya untuk menghindari kontroversi yang kerap kali berakibat buruk bagi orang-orang yang mencoba berfikir kritis terhadap Islam dari segala aspek, sejarah barangkali menjadi salah satu di dalamnya.

Membincang hari kelahiran Muhammad bukanlah hal mudah – semudah mengingat tanggal sejarah. Kita akan dihadapkan dengan dua pilihan yang amat sulit: berbicara jujur namun terkesan merusak sebuah tatanan budaya yang melekat pada umat Islam untuk merayakan 12 Rabiwul Awwal sebagai hari kelahiran Muhammad (maulid nabi); atau sebaliknya, menerima tatanan tersebut begitu saja, namun harus menutupi sebuah kejujuran bahwa penanggalan tersebut masih mengalami kesamaran sejarah.
Kesadaran akan pentingnya mengingat hari kelahiran Muhammad baru muncul pada masa pemerintahanUmar bin Khattab, tepatnya pada tahun 638 Masehi. Ketika itu Umar ingin menjadikan penanggalan Hijriyah sebagai sebagai sistem penanggalan resmi pemerintahan Islam ketika itu. Akan tetapi muncul berbagai benturan untuk menetapkan patokan awal dimulainya. Para sahabat menemukan kesulitan ketika muncul gagasan untuk menjadikan hari kelahiran Muhammad sebagai patokan awal sistem penanggalan Hijriyah. Sebab tidak satupun diantara mereka yang tahu persis kapan Muhammad dilahirkan.

Kesulitan melacak kelahiran Muhammad ini dirasa sangat wajar. Abdullah Al-Zanjani (1984) mengungkapkan: setiap pengkajian sejarah kelahiran nabi SAW akan menghadapi dua kemusykilan; pertama, kebiasaan orang Arab tidak mencatat sejarah mereka dengan tulisan kerena kebiasaan menulis merupakan satu hal yang baru pada zaman itu. Kedua, tidak diketahuinya hisab tahun yang digunakan orang Arab Jahiliyah, apakah yang digunakan Syamsiyah atau Qamariyah – agar benar-benar terbukti bahwa kelahiran Muhammad pada bulan Rabiwul Awwal.

Memang ada sejumlah pristiwa besar yang pernah terjadi pada tahun-tahun kelahiran Muhammad. Pristiwa tersebut misalnya penyerangan Ka’bah oleh Tentara Gajah Raja Abraha – yang kemudian tahun tersebut diabadikan sejarah Islam sebagai Tahun Gajah. Atau konon, dalam keyakinan umat Islam tradisional, pada saat kelahiran Muhammad muncul cahaya yang bersumber dari bayi Muhammad dan mampu menerangi seluruh Kota Makkah, serta api-api kaum Majusi yang telah hidup selama ratusan tahun padam seketika itu.

Terlepas apakah pristiwa luar biasa di atas dapat dibuktikan sejarah atau sebuah mitologi belaka, Fuad Hashem (1989) agaknya ingin menyingkirkan demitologisasi semacam itu dengan menggambarkan keadaan normal pristiwa kelahiran Muhammad pada buku Sirrah Muhammad Rasulullah yang ditulisnya. Fuad menegaskan: jeritan seorang bayi yang lahir merupakan hal lumrah didengar oleh masyarakat Quraisy ketika itu. Sebab setiap detik dan setiap menit bias saja bayi-bayi lain terlahir dengan kondisi dan jerit tangis yang sama. Kegembiraan mungkin muncul dari kalangan keluarga Abu Thalib karena diketahui bayi yang lahir adalah seorang bayi laki-laki, sebuah simbol kebesaran bagi bangsa Arab ketika itu. Namun siapa yang sadar kelak bayi tersebut akan menjadi seorang rasul utusan Tuhan yang tentunya turut mengisi pentas sejarah dunia, sehingga mereka lalai untuk mencatat tanggal lahirnya.

Kesamaran sejarah kelahiran Muhammad ini mengakibatkan perselisihan penanggalan yang cukup kontras dikalangan umat Islam. Kebanyakan ulama Syiah misalnya, berpendapat bahwa Muhammad dilahirkan pada tanggal 17 Rabiwul Awwal Tahun Gajah. Pendapat ini dibantah oleh segelintir ulama Syiah pula, seperti Abu Ja’far Muhammad bin Ya’kub Al-Kulaini Ar-Razi, dengan ucapan: Rasulullah SAW dilahirkan pada 12 Rabiwul Awwal Tahun Gajah”.

Ulama seperti Ibrahim bin Al-Munzeir, Al-Bukhari dan Khalifah bin Al-Khayat menukilkan adanya ijma’ bahwa Rasulullah SAW dilahirkan pada hari senin bulan Rabiwul Awwal, namun mereka tidak seragam dalam menentukan tanggalnya. Ada empat pendapat yang termahsyur, yaitu: pada hari kedua, kedelapan, kesepuluh dan kedua belas (Al-Janjani:1984). Mahmud Pasha, seorang ahli Ilmu Falak Mesir, mengambil jalan yang menurutnya dapat dipercaya dengan melakukan berbagai penghitungan, selanjutnya menyimpulkan bahwa Muhammad dilahirkan pada tanggal 12 Rabiwul Awwal, bertepatan dengan 20 April Tahun 571 Masehi, ditinjau dari sudut pandang sistem penanggalan Hijriyah, maka tanggal lahir Muhammad jatuh pada tanggal yang sama dengan tanggal wafatnya beliau, 12 Rabiwul Awwal tahun ke-10 Hijriyah, bertepatan dengan 8 Juni 632 Masehi.

Tradisi Peringatan Maulid Nabi
Berdasarkan uraian sebelumnya, kita tentu dapat memaklumi mengapa 12 Rabiwul Awwal dijadikan sebagai tradisi untuk mempringati maulid nabi. Hal ini disandarkan pada kesimpulan Mahmud Pasha yang meyakini tanggal kelahiran Muhammad sama persis dengan tanggal wafatnya beliau. Akan tetapi, yang sedikit aneh adalah kebiasaan umat Islam pada umumnya yang hampir melupakan bahwa tanggal 12 Rabiwul Awwal yang diperingati sebagai hari kelahiran nabi mengisyaratkan sejarah lain yang lebih otentik, yakni tanggal wafatnya nabi. Para mubaligh pada umumnya, jarang sekali, atau bahkan hampir tidak pernah menyinggung otentisitas sejarah ini dalam setiap ceramah maulid yang dilakukannya.

Padahal, tradisi maulid sendiri masih menjadi perdebatan panjang dikalangan ulama Islam. Sebagian besar ualama Islam membolehkan perayaan tersebut, namun sebagian kecil masih menentangnya karena alasan tidak memiliki hujjah yang jelas: apakah 12 Rabiwul Awwal memiliki nilai khusus bagi umat Islam untuk merayakan hari kelahiran Muhammad?

Dalam literatur sejarah Islam, sebagaimana yang dapat ditemukan dalam buku yang ditulis Fuad Hashem (1989), dijelaskan bahwa rumah kelahiran Muhammad yang cukup sederhana dipugar oleh Khalifah Harun Al-Rasyid atas permintaan ibunya, Khaizuran. Rumah tersebut kemudian dijadikan sebagai tempat ibadah Sholat, dan sejak saat itu, rumah kelahiran Muhammad selalu ramai dikunjungi jamaah pada tanggal 12 Rabiwul Awwal. Terlepas dari tujuan – apakah ingin merayakan hari kelahiran Muhammad atau justru mengenang wafatnya beliau, sejarah ini menunjukkan bahwa 12 Rabiwul Awwal telah menjadi perhatian khusus umat Islam sejak Abad ke-8 Masehi.

Sementara itu, tradisi perayaan maulid sendiri – dicatat oleh sejarah – dimulai pada masa Sholahuddin Al-Ayyubi, seorang panglima perang Islam yang berperan pada pristiwa Perang Salib. Untuk merangsang semangat juang tentaranya, Sholahuddin berkeinginan membangkitkan semangat mereka dengan kegiatan yang dapat mengingatkan pada perjuangan dakwah Muhammad. Atas dasar keinginan tersebut, selanjutnya Muzhofaruddin Kokbury (sepupu Sholahuddin) merayakan peringatan maulid nabi untuk pertama kalinya pada tahun 1207 Masehi.

Penutup
Membaca kembali berbagai perspektif sejarah Muhammad tentunya akan mengurai perdebatan panjang. Sebab sejarah tersebut tidak lebih dari sebuah periwayatan-periwayatan yang diperoleh dari orang-orang yang – menurut keyakinan kita – dapat dipercaya. Boleh jadi masih terdapat kekurangan serta kelemahan-kelemahan dalam isi periwayatan tersebut, sehingga menjadikan sejarah Muhammad – dalam beberapa aspek – berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Karenanya, melakukan analisis kritis terhadap sejarah (Muhammad) tidak saja dimungkinkan, malah menjadi sebuah keharusan agar umat Islam dapat lebih arif dalam beragama.

Momentum 12 Rabiwul Awwal sebagai peringatan maulid nabi misalnya, telah tersusun demikian rapih menjadi sebuah tatanan budaya yang menghiasi sejarah kehidupan umat Islam dalam rentang waktu yang panjang. Umat Islam pada umumnya hampir “dibutakan” oleh tradisi tersebut sehingga menganggapnya sebagai kesimpulan mutlak. Silahkan saja 12 Rabiwul Awwal menjadi tradisi untuk merayakan peringatan maulid nabi, namun setidaknya umat Islam harus mengerti alasan mengapa jatuh pada tanggal tersebut, tentunya dengan membaca kembali berbagai perspektif Sejarah Islam (Muhammad), dan peranan para “mubaligh maulid” tentu sangat diharapkan untuk memberikan pencerahan ini. Wallahu a’lam….☺

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • josef jakarta  On Maret 29, 2008 at 6:14 am

    hebat kamu ko tau sampai tanggal secara persis kelahiran nabi
    muhamad, emang pada waktu itu dah ada akte kelahiran ya???????

    setahu ku malah itu semua prediksi. siapa bilang muhammad itu mahluk
    paling sempurna? ko aku ada beberapa pertanyaan nich untuk anak
    dakwah dan sejarah perihal keberadaan Muhammad :
    1. Siapa Nama neneknya nabi Muhamad? He…he…he. ..?
    2. apakah benar kalo muhammad itu adil dalam rumah tangganya? kalo
    memang benar, kenapa saya melihat adanya diskriminasi terhadap
    istrinya (yang paling sering di publis, baik di hadis dan penulisan
    sejarah kok hanya dua orang yakni Khadijah dan Aisah, penj) kemana
    yang lain? apakah yang lain kurang kontribusinya? saya ragu kalo
    poligami muhamad itu adil, satuhal sepele seperti yang saya sebutkan
    tersebut. gimana? Muhammad…. muhammad. …!?

  • anonim  On Maret 14, 2009 at 5:35 pm

    to josef jakarta:
    menanggapi tentang keadilan poligami muhammad,
    saya ingin bertanya:
    apakah keadilan terhadap seseorang itu selalu tercermin dari banyak tidaknya nama orang tsb dipublikasikan?
    contohnya saya sendiri, saya malah sering minta kepada atasan saya agar teman2 saya lebih banyak dipublikasikan (dan diperhatikan) daripada saya. saya menikmatinya dan saya tidak menganggap itu suatu ketidakadilan. mungkin saja sebagian istri muhammad ada juga yg tidak terlalu menyukai publikasi, seperti saya…heheh

  • apun  On Maret 18, 2010 at 3:51 pm

    u/ yosef dan umat kristiani lainnya, yang mengatakan Muhammad makhluk paling sempurna tentu pertama orang Islam, berikutnya adalah bukti sejarah. Pertanyaan saya kepada anda:
    1. Tunjukan tokoh dunia (nabi, politisi, bahkan tuhan yesus), selain Muhammad saw, yang mampu mengentaskan bangsanya menjadi penguasa dunia dalam waktu 1 abad dan terus berlangsung sampai 7 abad berikutnya
    2. Tunjukkan tokoh dunia yang buta huruf (selain Muhammad saw) yang mampu mendidik manusia-manusia yang sebelumnya bodoh, hidup di tengah padang pasir menjadi khlaifah yang mampu merebut wilayah kekuasaan Romawi dan Sasanid (Persia)
    3. Parameter apa yang anda gunakan untuk menetapkan bahwa tokoh sejarah yang anda idolakan (Yesus, Paulus, atau siapa aja) lebih bermakna dalam merubah wajah dunia abad pertengahan (antara abad 3 s/d 8 M)
    Masalah keadilan kepada istri sangat tergantung laki-lakinya dan paradigma masyarakat di zamannya, tidak bisa dibahas secara tekstual begitu saja, dengan persepsi-persepsi sesuai selera anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: