Membumikan Teologi Inklusif

Oleh: Rizem Aizid

Fenomena yang terjadi dalam masyarakat (baca:OKP) muslim Indonesia saat ini adalah ketidakmauan menerima isme-isme yang datang dari luar (Islam). Seperti; pluralisme, inklusivisme, liberalisme, sekularisme, dan modernisme. Isme-isme dalam konteks ini diartikan sebagai sebuah paham yang membawa pesan perbedaan dan kemajemukan, dan berasal dari Barat.

Ketidakmauan menerima isme-isme ini, menurut Luthfi Assyaukanie, dilatarbelakangi oleh banyaknya pemikir-pemikir muda (OKP) islam yang beranggapan bahwa pluralisme, sekularisme, dan modernisme bertentangan dengan semangat ajaran islam. Sebab, gagasan pluralisme akan membuat islam semakin lemah. Pandangan-pandangan seperti inilah yang telah membawa OKP islam pada kejumudan berpikir.

Secara histories, pada era 60-an/70an, banyak para pemikir pembaruan di Indonesia, yang salah satunya adalah Nurcholis Majid (cak Nur), yang berusaha membawa masuk sekularisme ke dalam islam. Akan tetapi, usaha cak Nur itu kurang mendapat respon dari sebagian pemikir islam waktu itu. Kurangnya respon sebagian OKP islam terhadap proyek sekularismenya cak Nur tersebut merupakan awal munculnya fase kemunduran (pemikiran) islam di Indonesia saat ini.

Hal itupun dipertegas oleh Muhammad Abduh, pemikir pembaruan asal Mesir, yang menyatakan bahwa “kemunduran umat Islam adalah karena adanya paham jumud dalam Islam sendiri.” Jadi dapat disimpulkan bahwa umat Islam mundur adalah akibat dari kejumudannya sendiri. Lantas, bagaimana untuk menghapus paham jumud (kejumudan) yang sudah melekat dalam paradigma OKP-OKP Islam sekarang?

Untuk menghasilkan sebuah solusi yang solutif guna menjawab pertanyaan itu dibutuhkan waktu dan refleksi yang cukup panjang. Arti kata jumud menurut Abduh adalah keadaan membeku, keadaan statis, tak ada perubahan. Dengan definisi seperti itu, maka pengaruh paham jumud akan membuat umat Islam tidak menghendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan meskipun perubahan itu akan membawa Islam pada suatu fase kemajuan. Bisa dibilang, OKP Indonesia masih berpegang teguh pada tradisi konservatisme klasik.

Berkaitan dengan itu, mungkin judul buku Can Asian Think’s karya Qishar Mahbubani –seorang penulis asal India—sangat tepat menggambarkan kondisi OKP Islam Indonesia saat ini. apakah orang asia bisa berpikir? Jawabannya ternyata tidak. Orang asia tidak bisa berpikir. Yang dimaksud dengan tidak bisa berpikir di sini adalah kebanyakan orang Asia (baca:OKP Islam Indonesia) tidak dapat menerima kritik dan perbedaan. Padahal kritik dan perbedaan itu sangat penting untuk memajukan sebuah organisasi atau peradaban (Islam).
Secara ontologis, Ada dua paham yang memperngaruhi kondisi teologis umat Islam, yaitu ekslusivisme dan inklusivisme. Ekslusivisme memerupakan paham tertutup yang tidak mau menerima segala sesuatu yang datang dari luar golongannya. Sedangkan inklusivisme adalah paham terbuka yang mau menerima segala yang (positif) datang dari luar.

Orang-orang Eksklusif memandang orang lain berdasarkan keturunan, agama, ras, suku, dan golongan. Mereka tidak mau menerima orang yang dianggapnya tidak cocok dengan paham atau mazhab yang dianut alirannya. Hal ini kemudian akan menciptakan sebuah tindakan tertutup yang tidak mau menerima perubahan, kemajemukan, dan pluralisme agama (dalam konteks agama). Mungkin dalam Islam, sosok Al-Ghazali bisa dijadikan sebagai wakil dari sekian tokoh Islam yang menganut paham eksklusif ini. Dia sangat tertutup terhadap filsafat. Bahkan sampai-sampai dia mengeluarkan klaim ateis atau kafir terhadap tiga filosof muslim klasik.

Menurut hemat saya, Kemunduran, keterbelakangan, dan kemandegan pemikiran OKP Islam saat ini adalah diakibatkan dua hal yakni kejumudan berpikir dan adanya paham ekslusif dalam OKP islam Indonesia. Pertanyaannya, bagaimana untuk keluar dari kejumudan dan ekslusifitas berpikir tersebut? Jawabannya hanya satu, yaitu dengan teologi inklusif

Teologi Inklusif
Berbeda dari ekslusivisme di atas, inklusivisme memandang orang lain dengan lebih arif dan bijak. Orang-orang inklusif ini sangat menghargai adanya pluralisme, perbedaan, dan kemajemukan. Mereka memandang semuanya sama seperti dirinya sendiri. Politik pengkafiran pun tidak berkembang dalam paham ini.

Oleh karena itu, bisa dikatakan bahwa orang inklusif lebih mulia dari pada eksklusif. Jika di eksklusif ada al-Ghazali, maka tokoh utama yang menganut paham inklusif ini terpotret pada sosok Ibnu Rusyd. Beliau sangat menjunjung rasionalitas dan pluralitas, keberagaman dan kemajemukan, baik dibidang agama maupun budaya, dan nilai-nilai universalitas lainnya.

Berangkat dari fenomena seperti itu, menurut saya, teologi inklusif adalah salah satu solusi yang solutif guna menghapus (mendekonstruksi) paham jumud dan ekslusif yang telah “membumi” dalam OKP Islam di Indonesia. Dengan teologi inklusif ini, Islam dapat berkembang ke arah yang lebih baik dan maju.

Maka dari itu, sekali lagi, untuk keluar dari keterupurukan dan keterbelakangan pemikiran yang kini mendera umat Islam di dunia dan OKP di Indonesia khususnya, harus menjadikan teologi inklusif sebagai satu-satunya paradigma dalam menyikapi realitas. Teologi inklusif, dengan demikian, adalah suatu kemanusiaan universal yang dalam al-qur’an, surat ar-rum ayat 30, disebutkan sebagai agama yang benar.

Menurut penulis, sudah saatnya kita (OKP) membuka diri untuk menerima perubahan, kemajemukan, dan perbedaan. Akhirnya, semoga dengan teologi inklusif ini, kejumudan berpikir yang mendera OKP Islam dapat terhapus. Amin!

Artikel ini telah terbit di harian Jawapos, Rabu 26/09/2007

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • rizem  On Maret 22, 2008 at 10:51 pm

    terimaksi udah mempublikasikan tulisan saya,,

  • Abu Jannah  On Februari 4, 2010 at 12:40 am

    saya miris yah meihat tulisan ini, apalagi ditulis seseorang yang sedang belajar agama islam

    manusia diberi akal dan rasa, dan yang membedakan orang beriman dengan manusia lainnya, mereka berpikir dan melangkah bukan berdasarkan akal dan rasa, tetapi atas dasar bimbingan wahyu (al-qur’an)

    ketika kita menggunakan akal, sangat logis jika kita berpikiran bahwa isme-isme ataupun pemikiran dari barat sangat berkembang maju pesat dibanding pemikiran islam yang sempit dan kaku…

    ketika kita menggunakan rasa, yang digunakan kata “seharusnya” masyarakat islam bisa berkembang “jika” menerima pemahaman dan pemikiran masyarakat yang multikultural, berkaitan dengan humanity, ekslusivisme maupun inklusivisme

    saya setuju sampai saat ini masyarakat islam berada dalam kejumudan karena bukan mereka tidak mau membuka diri terhadap perubahan, kemajemukan, dan perbedaan, tetapi mereka sendiri tidak mau membuka diri terhadap islam yang haq

    Islam merupakan sebuah isme (kalo mau dikatakan isme) yang sempurna, tidak ada yang bisa menandingi bahkan menyamai, isme-isme yang lain berkembang dan dilahirkan dari akal dan rasa manusia yang memiliki kemampuan terbatas (pasti ada human errornya), sedangkan islam yang bersandarkan pada al-qur’an dan sunnah rasul bukan berasal dari akal dan rasa manusia tapi dari yang menciptakan manusia itu sendiri, menurut akal dan rasa jika HP buatan Nokia PASTI manual booknya dari produsen Nokia tidak akan ditemukan dari produsen lain, dan jika si pemakai Nokia mengalami masalah PASTI akan datang ke gerai Nokia bukan ke gerai Nexian

    untuk itulah akal dan rasa diciptakan, agar bisa menerima petunjuk dari Allah, bukan untuk membuat isme-isme baru

    Saya sarankan anda pergunakan akal dan rasa anda kembali dengan benar sesuai fitrahnya, Islam PASTI maju jika SDMnya mau menggali nilai-nilai Islam itu sendiri

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: