Islam dan Aliran Sesat

Oleh: Drs. Irwansyah, M. Ag

Sebuah hadis nabi yang bercorak futuristic bermakna kurang lebih: “bahwa suatu masa nanti, akan muncul dikalangan umatku, kebanyakan dari mereka ahli pidato, tetapi sedikit yang memahami “agama”, mesjid-mesjid penuh jama’ah, tetapi para ulamanya saling menjelekkan satu sama lain”. Hadis ini semacam berada pada satu tema dengan pernyataan nabi yang meramalkan bahwa akan datang suatu masa Allah mencabut ilmu dari dunia ini dengan cara “matinya” para ulama, sehingga tinggallah umat yang tidak berilmu, dari diri umat yang tidak berilmu ini lahirlah fatwa, akhirnya mereka sungguh berada dalam kesesatan dan pula menyesatkan orang lain.

Petikan hadis di atas disarikan secara bebas, dan sudah tentu kita hindari dulu mempertimbangkan hadis model “ramalan” yang disinggung di atas, apakah dapat diperpegangi secara ilmiah atau tidak, akan tetapi kemungkinan secara maknawi hadis tersebut sudah dapat dimaklumi oleh banyak umat Islam dan selalu disebut-sebut sebagai materi ceramah para ustadz dan tuan guru ketika menjelaskan betapa pentingnya seorang ulama, dan mungkin juga disampaikan ketika seorang ustadz atau tuan guru cemas dan gelisah karena pandangannya yang psimistis dalam menghadapi masyarakat, khususnya umat Islam yang dalam faktanya suka “bertengkar” ketika berbeda pendapat.

Hadis yang cenderung bersifat “ramalan” selalu saja mengundang diskusi terutama soal “waktu” terjadinya peristiwa yang diramalkan, dan tak jarang pula saol “siapa” sosok yang diramalkan; apakah terjadi pada masa sahabat nabi, masa kerajaan Umayyah, masa kerajaan Abbasiyah, masa Tiga Kerajaan Kecil, atau terjadi masa sekarang? Atau mungkin pula terjadinya pada masa depan, dan seterusnya. Satu hal dari hadis tersebut yang menarik diungkapkan adalah “bahwa orang yang berfatwa tanpa ilmu itu sesat dan menyesatkan”. Akan tetapi siapa yang dimaksud oleh hadis ini pun menjadi masalah, bagaimana mengukur ilmu seseorang? Dan sebatas mana ilmu yang dipunyainya baru ia boleh berfatwa? Atau apakah setelah seseorang berfatwa baru dapat diketahui bahwa ia punya ilmu atau tidak? Dan yang paling menghawatirkan bila ada pemahaman bahwa ramalan hadis itu terjadi saat ini, dan sesiapa yang kini banyak berfatwa adalah tidak berilmu. Mungkin oleh sebab kekhawatiran itulah maka di Indonesia orang yang boleh berfatwa berkumpul dalam satu majelis yang disebut Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Aliran Sesat dan Fatwa MUI

Majelis Ulama Indonesia adalah tempat berkumpulnya ilmuan Islam yang oleh pemerintah diakui sebagai mewakili orang-orang yang berilmu dari kalangan penganut Islam. Kalau dulu ada kecenderungan bahwa yang berkumpul dalam wadah itu adalah orang-orang tua yang mempunyai “ilmu agama” saja, tapi lambat laun berubah, kini telah berkumpul di dalamnya orang-orang muda dengan disiplin ilmu yang beragam disesuaikan dengan kebutuhan zaman yang semakin canggih. Ada pula istilah lain, kalau dulu yang berkumpul di sana para ilmuan muslim yang memakai kain sarung, tetapi kini mereka sudah berdasi. Ulama-ulama yang berkain sarung itu biasanya akrab dengan masyarakat sampai lapisan paling bawah dan mengenal seluk beluk umatnya, baik soal kehidupan ekonominya maupun perkembangan pemikirannya. Sehingga sang ulama segera tau bila ada sedikit saja pemikiran maupun pengamalan ajaran agama umatnya yang mungkin dapat tumbuh menjadi aliran sesat, dan langsung mengantisipasinya. Tapi kini ketika ulama berdasi hanya duduk berdiskusi sampil membaca buku-buku dan seminar, tak tau lagi dengan umatnya pada level yang paling bawah itu, sehingga pencegahan terhadap bibit-bibit ‘kesesatan” tak dapat dilakukan sejak dini. Kalau dulu ulama itu muncul dari gelar yang diberikan masyarakat, tapi kini ulama justru dipertanyakan definisinya oleh mereka sendiri. Hal ini dibuktikan dari cara tebang pilih rekruitmen anggota majelis terhormat itu.

Kehadiran Majelis Ulama Indonesia dapat menjadi penyejuk dan pengaman bagi umat, malah secara agak berlebihan lembaga ini dianggap sebagai “penjaga agama”. Lain halnya bagi sebagian akademisi, sungguhpun masih menganggap penting adanya lembaga ini dan posisi yang dimainkannya, namum terkait dengan fatwa-fatwa yang terlahir darinya selalu dijadikan bahan diskusi, baik di kampus maupun dalam forum-forum ilmiah seperti seminar dan lain sebagainya.

Apakah “fatwa” dapat dijadikan sumber hukum Islam? Bagaimana posisinya dibandingkan dengan ijtihad para ulama, ijma’ para ulama, qiyas dan lain sebagainya? Dan bidang atau hal apa saja yang boleh masuk dalam fatwa? Bolehkah berfatwa dalam hal wacana dan pemikiran, bukankah fatwa itu semestinya hanya dalam bidang pengamalan dan tindakan? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selalu dijawab bervariasi oleh kalangan akademisi muslim. Tak jarang pula mereka berbeda pendapat dan malah mungkin “bertengkar” dalam pendapatnya itu. Akan tetapi belum ada fatwa dari MUI bahwa yang “bertengkar” karena berbeda bendapat itu adalah “sesat”. Dan sampai kini MUI belum ada berfatwa bahwa umat Islam yang tidak mentaati fatwa MUI adalah “sesat”. Fenomena ini tentu sangat membahagiakan kita, karena sebagai wadah berkumpulnya para ilmuan sudah semestinyalah menghargai perbedaan “pendapat”.

Fatwa “sesat” yang dikeluarkan MUI terhadap berbagai faham dan aliran keagamaan yang mengatasnamakan atau berasal dari Islam, semestinya diringi bahwa “haram” melakukan pengrusakan, pembakaran rumah, atau perbuatan main hakim sendiri terhadap kelompok atau aliran yang sedang dikatakan “sesat” oleh MUI itu. Bila hal tersebut tidak membutuhkan fatwa karena menyangkut hukum Negara, mungkin MUI bisa berfatwa bahwa orang-orang yang tidak mentaati pemerintah adalah “sesat”, dan sebagainya. Dampak fatwa itu terkadang lebih merugikan daripada aliran yang dikatakan “sesat” itu sendiri, inilah yang mesti diantisipasi, dan diupayakan jangan sampai terjadi, bahwa fatwa “sesat” justru menimbulkan “kesesatan” pula.

Penyebab Munculnya Aliran Sesat

Satu dari berbagai tanda kebangkitan agama-agama di era posmodernisme ini adalah munculnya interpretasi yang bebas terhadap sumber atau terhadap ajaran pokok dalam setiap agama. Awalnya berbeda pemahaman, kemudian berbeda pengamalan, dan berujung menjadi berbeda iman dan keyakinan dari agama induknya. Aliran yang sudah berbada iman dan keyakinan dengan agama induknya inilah yang selalu dipandang sesat, apabila masih mengatasnamakan agama induk tadi, akan tetapi bila ia lahir sebagai “agama” baru, tentu tidak lagi dapat dikatakan sebagai aliran sesat. Masalahnya adalah “siapa” yang berhak mewakili agama induk itu? Misalkan saja agama Islam, kini terpecah menjadi aliran “sunni” dan aliran “Syi’i”. Bisakah Islam Sunni mengatakan bahwa Islam Syi’i adalah “sesat”, atau sebaliknya Islam Syi’i mengatakan bahwa Islam Sunni adalah “sesat”? Tentu saja bukan hanya bisa tetapi memang terjadi dalam sejarah umat Islam, karena dalam banyak hal baik dalam bidang keyakinan maupun dalam bidang ibadah, memang terjadi perbedaan diantara keduanya. Bagi umat Islam yang mungkin tidak merasa sebagai Islam Sunni dan juga tidak sebagai Islam Syi’i, bagaimana pula? Apakah dibenarkan? Apa ukuran pembenaran itu? Al-Quraankah? Hadiskah? Pengamalan Sahabat nabi ketika di Madinah kah?

Perbedaan pimikiran yang berbuntut truth claim sudah ada dalam Islam sejak terjadinya perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah bin Abu Sofyan, dimulai dari adanya klaim bahwa Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Sofyan, keduanya dan pengikuit keduanya adalah kafir, karena mereka tidak berhukum kepada Al-Quran. Pendapat ini muncul dari kelompok yang awalnya memihak Ali tetapi kemudian keluar dari barisan Ali. Pada masa Abbasiyah juga pernah terjadi peradilan terhadap mereka yang berfaham teologi berbeda dengan yang dianut Negara saat itu, disebutlah Ahmad bin Hambal salah seorang yang selamat setelah dijatuhi vonis hukuman mati karena pendapatnya yang mengatakan bahwa “Al-Quran adalah kalamullah“, pemerintah yang saat itu beraliran Mu’tazilah mengajukan pertatanyaan dengan dua opsi jawaban: “apakah Al-Quran itu qadim atau baharu”; Ahmad bin Hambal tidak memelih salah satu dari kedua opsi tersebut, maka keputusan untuk menghukum “bunuh” pun dijatuhkan, tetapi karena persoalan politis ketika itu, beliau pun selamat. Disebut pula dalam sejarah para sufi bahwa Al-Hallaj dihukum mati karena pendapatnya mengatakan: ana al haq (aku adalah Tuhan). Di Indonesia terdapat Syekh Siti Jenar yang dihukum mati oleh Walisongo karena pendapatnya yang berbeda. Di Mesir belum lama ini, terjadi pengadilan terhadap mereka yang pendapat dan pemahamannya berbeda dari kebanyakan ulama, sehingga ulama Islam yang hafal Quran sejak kecilpun terpaksa angkat kaki dari negerinya, ulama besar itu adalah Nasr Hamid Abu Zaid.

Pendapat “banyak orang” atau “orang banyak” selalu menjadi ukuran kebenaran, itulah “hukum sosial”, ma roah al muslimuna hasanan fahua ‘indallahi hasanun (sesuatu yang dipandang baik menurut orang banyak maka ia baik dalam pandangan Allah), semangat ungkapan Ibnu Mas’ud inilah yang mungkin menjiwai hukum sosial itu. Dalam istilah demokrasi fox populei fox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan). Majelis Ulama Indonesia dianggap sudah dapat mewakili suara terbanyak para ilmuan muslim di Indonesia, sehingga ianya dapat dianggap berhak menjatuhkan klaim “sesat” terhadap aliran keislaman yang “menyimpang” dan ukuran menyimpang itu adalah bila berbeda keyakinan dan ibadahnya dari kebanyakan penganut muslim di Indonesia. Lebih khusus ukuran menyimpang atau tidak, selalu dikaitkan kepada rukun Islam yang lima dan rukun iman yang enam. Bila rukun iman yang enam menjadi patokan atau ukuran “kebenaran” iman seorang muslim, tentu bersyahadat selain asyhadu an la ilaha illa Allah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah adalah “sesat”. Demikian pula bila rukun Islam yang lima menjadi ukuran “kebenaran” amaliyah seorang muslim, tentulah sesiapa yang tidak shalat lima waktu dan 17 rakaat dalam sehari semalam, adalah “sesat”. Akan tetapi tentang rukun iman dan rukun Islam ini, ternyata masih debatable, contoh kecil saja ditahun 1990 an di Indonesia Harun Nasution mengatakan bahwa dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 177 “rukun iman” adalah “lima” bukan enam. Salah seorang pemikir dari Sudan (Gurunya Ahmad An-Naim) mengatakan bahwa rukun iman “hanya satu”, dan lain sebagainya. Mengenai rukun Islam yang lima itupun dikatakan oleh Joesoef Sou’yb adalah produk pemikiran kelompok Ahlussunnahwaljama’ah.

Penutup

Kultur masyarakat Indonesia yang majemuk dan sangat terbuka adalah tanah yang subur untuk tumbuhnya berbagai aliran pemikiran keagamaan. Dalam pendekatan budaya, macam pemikiran dan pemahaman ini timbul justeru menandai kegairahan seseorang terhadap agama yang dianutnya. Sungguh juga tidak dipungkiri adanya unsur lain semisal niatan politis disebalik itu. Dalam Islam memang terjadi bahwa perbedaan pemikiran dalam teologi itu diawali oleh kepentingan politik. Sehingga “kafir-mengkafirkan” atau saling menuduh “sesat” aliran yang lain disebabkan oleh kepentingan eksistensi aliran masing-masing.

Kegairahan keberagaman ini harus dipelihara dan diresponi secara positif baik oleh agama induknya maupun oleh pemerintah. Bila agama induk tidak memberikan ruang untuk mengapresiasi kegairah keberagamaan model itu, maka tidak mustahil mereka akan meninggalkan agama induknya, bila hal ini terjadi berarti pemerintah harus siap untuk menyediakan tempat bagi mereka dengan “agama” barunya. Mungkin bukan hanya enam agama (Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Buddha dan Konghucu) yang boleh hidup di Indonesia, tetapi lebih dari itu. Bilamana pemerintah tidak mengapresiasinya, dampaknya mungkin akan muncul masyarakat yang tidak “beragama” atau “anti-agama”. Malah ada pula kemungkinan lain yakni, secara diam-diam mereka beragama, selain “agama resmi”. Hal itupun mungkin tidak jadi masalah asalkan tidak mengganggu ketenteraman, dan kedamaian. Allahu a’lam…

*Tuisan ini disampaikan pada diskusi el-Myskah Cyrcle. Penulis adalah pembina JarIK Sumut, Dosen Perbandingan Agama di IAIN Sumatera Utara

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: