PUASA DAN KEDAMAIAN*

Oleh: Drs. Irwansyah, M. Ag

Ketika ingin mengemukakan konsep puasa dalam “Islam” saya teringat ungkapan seorang pemikir Muslim[1], Muhammad Arkoun, bahwa seorang ilmuan Muslim bila ingin mengutarakan suatu konsep atau gagasan sebaiknya ia tidak serta merta mengungkapkan …menurut atau dalam Islam, misalnya “Puasa Dalam Islam”, akan tetapi mestilah dibedakan bahwa dalam kata “Islam” terkandung paling kurang tiga pengertian, yakni: 1) Al-Quran yang diimani sebagai wahyu Tuhan kepada Muhammad bin Abdullah melalui perantaraan malaikat Jibril atau langsung melalui inspiratif, turun berangsur-angsur sejak masa kenabian sampai menjelang wafatnya Muhammad; mulanya wahyu yang turun itu dipelihara dalam hafalan para teman dekat yang dipercayainya atau dicatat pada alat tulis yang ada ketika itu baru belakangan dicetak seperti buku tebal yang kini diterima sebagai kitab suci; 2) Al-Hadis yang oleh hampir seluruh umat Islam menjadikannya sebagai sumber kedua setelah kitab suci al-Quran malah terkadang oleh sebahagian dijadikan sebagai sumber utama dalam berpikir, beriman, berperilaku atau beribadah kepada Tuhan. Al-Hadis adalah gagasan atau perbuatan, serta sikap Muhammad bin Abdullah dalam merespon wahyu Tuhan; akan tetapi ianya dikumpulkan dan ditulis setelah sang nabi meninggal dunia. Masa dimulai pengumpulan dan penulisan itu lebih 50 tahun setelah beliau wafat sehingga terjadi proses seleksi mana gagasan atau perbuatan serta sikap Muhammad bin Abdullah yang acountability dan mana yang tidak; pengumpulan itupun melalui berita dari satu orang kepada orang lain sampai kepada sumber yang terpercaya bahwa informasi tentang gagasan atau perbuatan serta sikap tersebut “benar” berasal dari Nabi Muhammad; 3) Al-Ulama yang berarti ilmuan atau ahli ilmu agama dalam masyarakat muslim dimaknai secara unik, adakalanya dipandang mempunyai otoritas dalam menginterpretasikan Al-Quran dan Al-Hadis sehingga gagasan dan perbuatannya dapat dijadikan pedoman dalam berpikir, beriman, berprilaku dan beribadah kepada Tuhan, akan tetapi otoritas ulama ini terkait erat dengan ragam pemikiran, pemahaman, aliran dan mazhab, baik dalam hal teologi, hukum, pendidikan, sosial, politik dan lain sebagainya.

Islam dalam arti Al-Quran, Al-Hadis dan Al-Ulama sebagaimana yang diungkap Arkoun ini adalah merupakan hirarki sumber dalam Islam, akan tetapi saya ingin menambahkan bahwa dalam kata Islam juga dapat dimuati oleh “sesuatu yang difahami, dipraktekkan dan menjadi tradisi dalam masyarakat”. Namun dalam diskusi ini tidaklah dimaksudkan untuk membahas masalah puasa dari sudut hirarki sumber-sumber dimaksud secara lengkap dan sistematis. Dalam kaitannya dengan thema menyambut puasa Ramadhan dengan kerukunan maka saya mengambil judul Puasa dan Kedamaian.

Puasa Sebagai Kewajiban Umat Islam

Nabi Muhammad menerima wahyu pertama ketika beliau berada di Makkah tepatnya sekitar tahun 610 M,[2] umur beliau ketika itu kurang lebih 40 tahun. Perintah berpuasa pada bulan Ramadhan diterima nabi ketika beliau sudah berada di Madinah, tepatnya pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijrah,[3] sekitar tahun 624 M dan itu berarti satu bulan sebelum terjadinya Perang Badar[4].

Adapun satu-satunya perintah berpuasa pada bulan Ramadhan termuat dalam surah kedua (al-Baqarah) mulai dari ayat 183 sampai ayat 188[5]. Philip K. Hitti dalam “History of The Arabs” ketika menguraikan tentang rukun Islam adalah lima dan puasa adalah Rukun Islam yang keempat, ia mencatat sebagai berikut: “Meskipun sejumlah ketentuan tentang ibadah puasa untuk menebus dosa telah ditetapkan beberapa kali dalam surah-surah Madaniah (Q.S. 58: 4; 19: 26; 4: 92; 2: 196), Ramadhan sebagai bulan puasa hanya disebutkan satu kali (Q.S. 2: 181-187)”[6].

Bila memahami ayat al-Quran tentang puasa Ramadhan secara kronologis, akan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ayat 183 surah kedua (al-Baqarah) menjelaskan bahwa ketetapan berpuasa bukan hanya kepada umat Muhammad saja akan tetapi Tuhan juga menetapkan berpuasa kepada umat sebelumnya; yang dimaksudkan antara lain adalah umat Yahudi dan Nasrani, demikian menurut Hitti, akan tetapi menurut Al-Maraghi dalam Tafsirnya menjelaskan bahwa ketetapan puasa itu sudah sejak dari adanya perintah Tuhan kepada Nabi Adam[7]. Sungguhpun sulit mencari bukti kebenaran pernyataan tersebut dalam peraktek umat manusia sepanjang sejarah agama-agama, tetapi pemahaman seperti itu dapat dijadikan landasan pemikiran bahwa “ketetapan berpuasa” menyimpan makna universalitas kemanusiaan karena mengingatkan tentang sejarah umat manusia yang semestinya kompak dan bersama dalam menuju Tuhan.

Ayat 184 pada surah kedua (al-Baqarah) menjelaskan bahwa puasa dilakukan dalam beberapa hari yang tertentu (ayyâmam ma’dûdât), dan kewajiban berpuasa gugur hanya dengan tiga keadaan, yaitu sakit, musafir, dan memang tak mampu melakukannya. Namun gugurnya kewajiban berpuasa itu mestilah diikuti dengan kewajiban yang lain yaitu apabila dalam keadaan sakit dan musafir ia harus berpuasa dihari yang lain (fa’iddatun min ayyâmin ukhar) dan apabila gugurnya kewajiban itu karena memang tidak mampu melakukan puasa maka ia mestilah melakukan kewajiban berfidyah dengan memberi makan orang miskin.

Ayat 185 pada surah kedua (al-Baqarah) menjelaskan kewajiban berpuasa secara teratur dengan jumlah hari yang ditetapkan, yakni hanya terjadi pada bulan Ramadhan saja, bagi orang yang sedang dalam perjalanan atau dalam keadaan sakit ada keringanan dengan cara mempuasakannya pada hari yang lain. Mempuasakannya pada hari yang lain ini menarik bagi saya untuk memahaminya secara berbeda terbanding dengan apa yang dilaksanakan masyarakat Muslim hari ini. Bagi mayoritas umat Islam bahwa apabila kita tidak puasa di bulan Ramadhan karena sakit atau musafir maka digantilah pada bulan yang lain selain bulan Ramadhan sejumlah hari yang kita tidak puasa itu. Pendapat seperti ini disepakati oleh seluruh ulama Fiqih (hukum) Islam. Namun saya memahami bahwa penegasan Tuhan “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” dikaitkan dengan dua kondisi tadi (sakit atau musafir), bolehlah kita berpuasa kembali ketika kita sudah sembuh dan sudah berada di tempat (tidak sedang dalam perjalanan) dan tidak mengganti puasa yang ditinggalkan.

Pemahaman ini didasarkan kepada tiga hal: pertama praktek mengganti puasa Ramadhan karena sakit dan musafir tidak pernah dilakukan nabi Muhammad; keduaketiga kata fa’iddatun min ayyâmin ukhar dapat diterjemahkan “maka puasakan dihari yang kamu tidak sakit dan tidak musafir”. pada masa nabi Daud puasa itu tidak setiap hari tetapi sehari puasa dan sehari tidak, dan dikisahkan pula bahwa sebahagian umat terdahulu berpuasa siang dan malam, jumlah harinyapun 40 hari. Maka Islam datang tentunya dengan wajah baru, dengan prinsip mempermudah dan tidak mempersulit. Bila harus diganti dengan hari lain apa arti kemudahan itu ?

Ayat 186 pada surah kedua (al-Baqarah) menjelaskan bahwa ada satu kondisi manakala seorang hamba sangat dekat dengan Tuhannya, dan kedekatan itu ditandai dengan diperkenankannya segala do’a. Puasa adalah salah satu media untuk menjadi sangat dekat dengan Tuhan. Nabi Muhammad mendapatkan inspirasi bahwa Tuhan mengatakan: “Setiap amal keturunan Adam untuk dirinya sendiri, akan tetapi puasa itu adalah untuk Ku, dan Akulah yang akan membalasnya”.

Ayat 187 pada surah kedua (al-Baqarah) menjelaskan bahwa puasa itu intinya adalah menahan diri dari pemuasan jasmaniah yakni makan dan minum juga hubungan seksual suami-istri, yang waktunya sejak dari terbit fajar (sebelum shalat subuh) sampai malam. Mengenai kata “malam” ini terjadi pemahaman yang berbeda bagi sebahagian umat, malam diartikan sama dengan waktu maghrib (terbenamnya matahari), tetapi ada juga yang memahami “malam” sama dengan waktu shalat Isya tiba.

Ayat 188 pada surah kedua (al-Baqarah) tidak menyinggung soal puasa, akan tetapi mengemukakan larangan agar sebahagian umat manusia tidak memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak sah dan terlarang, baik secara adat, hukum agama, hak azasi maupun hukum Negara.

Menciptakan Kedamaian Melalui Puasa

Ibadah puasa ditetapkan untuk umat manusia dalam teks al-Quran surat kedua (al-baqarah) ayat 183 adalah untuk tujuan agar manusia yang berpuasa terlatih atau melatih diri atau mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang bertaqwa. Bertaqwa itu dimulai dari kewajiban-kewajiban dan berujung dengan rambu-rambu dan larangan. Oleh sebab itu bertaqwa itu berat, karena persoalan mental, perlu kekuatan spiritual terutama untuk menundukkan keinginan-keinginan yang sifatnya murahan dan rendah dari tuntutan tubuh jasmaniah yang memang terbuat dari “tanah” dan “air yang hina” ini. Kebebasan yang seharusnya hanya milik Tuhan itu mestilah dimaklumi karena kita bukan Tuhan tapi ciptaannya. Kewajiban dan rambu-rambu atau larangan bila difahami hakekatnya adalah mengembalikan citra manusia sebagai hamba Tuhan. Ketundukan dan kepatuhan adalah kedamaian itu sendiri. Puasa adalah batu ujian untuk itu, karena ketika kita berpuasa tiada orang yang tau kecuali diri kita sendiri dan Tuhan yang mengamati.

Nabi Muhammad mengatakan bahwa “puasa itu mampu membuat orang sehat”. Sungguh telah terbukti secara medis bahwa “puasa” sebagai salah satu terapi kesehatan, terkait dengan kesehatan jasmani, namun yang lebih penting bahwa puasa menjadikan batin rohani seseorang menjadi bening, karena konsentrasi hanya kepada Tuhan. Oleh sebab itu Nabi menstimulus bahwa: “seseorang yang melakukan puasa dengan konsentrasi dan kebeningan hati, maka Tuhan akan mengampuni segala dosa-dosanya”. Analisis psikologis terhadap pernyataan ini dapat mendukung kenyataan bahwa tiada kedamaian selain kebeningan hati, kebersihan jiwa dan optimis terhadap keampunan segala dosa.

Bila kita andaikan bahwa seluruh umat beragama melakukan puasa, tentunya dengan keyakinan dan tatacara yang berbeda, dan kondisi mental-spiritual ketika berpuasa itu dapat dipertahankan selama mungkin dalam pergaulan kita berkeluarga, bermasyarakat dan berbangsa, tentulah kedamaian adalah buahnya.

Ayat 188 surah kedua (al-Baqarah), sungguh tidak langsung menjelaskan kaitannya dengan puasa akan tetapi secara kronologis ayat dapat dimaknai sebagai kesimpulan yang semestinya dicapai bagi seseorang yang terlatih melakukan puasa. Bila seseorang mampu menahan diri untuk tidak makan dan minum yang selama ini menjadi miliknya, juga mampu menahan diri dari nafsu terhadap wanita yang selama ini halal digaulinya, maka larangan memakan harta orang lain dengan jalan yang tidak sah dan terlarang, menjadi logis sebagai tujuan akhir dari ibadah puasa itu.

Telah dimaklumi bahwa kekacauan, peperangan, dan ketidak damaian dunia ini adalah disebabkan antara lain oleh harta. Menurut Muhammad Husain Haekal bahwa bangun peradaban dalam Islam itu dimulai dari persaudaraan. Persaudaraan itu terbentang dari yang terdekat sampai yang terjauh, yaitu dari persaudaraan sedarah, sesuku, seklan, seagama, sebangsa dan sesama umat manusia. Inti dari persaudaraan itu adalah pengendalian diri terhadap harta. Persaudaraan dimulai dari memberi bukan menerima[8]. Kepedulian terhadap penderitaan dan kemiskinan adalah bangun utama persaudaraan itu. Karenanya puasa adalah latihan untuk merasa peka terhadap rasa haus dan lapar orang lain dan tentunya diaplikasikan dengan memberi, bukan malah mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak sah dan terlarang.

Penutup

Perang yang terbesar dilakukan Nabi Muhammad melawan kafir Qurasy adalah Perang Badar, kala itu pasukan Islam hanya berkisar 300 orang sedangkan kelompok musuh berjumlah lebih kurang 1000 orang, akan tetapi Nabi dan umat Islam memperoleh kemenangan. Kasus perang besar ini diabadikan dalam kitab suci Al-Quran. Dan perang ini terjadi pada tahun kedua Hijrah tepatnya dibulan Ramadhan, yakni setelah kewajiban berpuasa diturunkan. Uniknya bagaimana kita membayangkan bahwa dalam kondisi ditengah padang pasir yang cukup panas mereka dituntut untuk berpuasa dan lagi berperang melawan musuh. Disisi lain terdapat dalam sebuah Hadis, nabi Muhammad mengatakan: “puasa itu penjaga (perisai) maka janganlah ia berkata-kata buruk dan jangan berbuat kebodohan. Jika ia dimusuhi atau dicaci maki oleh seseorang maka katakanlah: ‘sesungguhnya saya ini sedang berpuasa'[9]

Apakah ada hubungan strategis antara turunnya kewajiban puasa dengan peperangan yang akan dihadapi umat Islam ketika itu?

Dalam sejarah yang ditulis Muhammad Husain Haekal tidak diceritakan bahwa nabi Muhammad tidak berpuasa ketika berperang, akan tetapi beliau memberikan rambu-rambu agar tidak membunuh orang-orang tertentu dari pembesar Quraisy dan dilarang juga membunuh Banu Hasyim, sungguhpun pada dasarnya mereka akan membunuh umat Islam apabila berhadapan[10].

*Ditulis sebagai bahan ceramah pada diskusi LPKUB perwakilan Medan
Penulis adalah salah satu dari pembina JarIK Sumut

 

Catatan Kaki

     

  1. Informasi tersebut saya dengar dari Karel A. Steenbrink (lahir di Belanda tahun 1942) ketika ia berkunjung ke IAIN SU beberapa tahun yang lalu.

  2. Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, Cet. XVII, (Jakarta: PT. Pustaka Litera AntarNusa, 1987), h. 79.

  3. Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, Cet. VI, (Jakarta: Lentera, 2007), h. 157.

  4.  

  • Philip K. Hitti, History of The Arabs, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006), h. 146.

  • Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Jakarta: t.p, t.th), h. 44-46.

  • Philip K. Hitti, loc. cit., h. 166. Tetapi pada buku teks asli dalam bahasa Inggris edisi X , h. 132 tertulis: “Ramadân as a fasting month is mentioned only once (2: 179-81).”

  • Anwar Rasyidi (ed.), Terjemah Tafsir Al-Maraghi, Jld. II, (Semarang: Toha Putra, 1984), h. 125.

  • Muhammad Husain Haekal, op. cit., h. 208.

  • Zaenuddin Ahmad Azzubaidi, Terjemah Hadis Shahih Bukhari Jld. I, (Semarang: Toha Putra, 1986), h. 616.

  • Muhammad Husain Haekal, loc. cit. h. 258.,

  • Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: