Mengeritik PLN, Mengeritik Umat Islam (Kasus Pemadaman Listrik Bergilir Wilayah Sumbagut)

Oleh: Eko Marhaendy

Baru beberapa bulan yang lalu, tepatnya awal Januari 2007, PLN Wilayah Sumbagut (Sumatera Bagian Utara) menyampaikan pernyataan bahwa pemadaman listrik secara bergilir di wilayah Sumut tidak akan terjadi lagi, setelah tidak kurang dari satu tahun lamanya pihak PLN Sumabagut melakukan pemadaman listrik secara bergilir selama dua kali empat jam diwilayah Sumut. Pernyataan PLN ini tentu merupakan sebuah garansi bagi masyarakat Sumut untuk tidak menikmati berbagai macam efek negatif dari pemadaman tersebut. Meski pihak PLN memberikan alasan bahwa pemadaman yang terjadi diakibatkan kapasitas daya penampung listrik yang tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat di Sumut, termasuk pula adanya perbaikan mesin pembangkit yang sudah tua, bahkan dengan pemadaman tersebut PLN mengalami kerugian besar. Masyarakat Sumut ternyata tidak ingin kalah berargumentasi, bahwa dengan pemadaman tersebut masyarakat juga mengalami kerugian besar: kerusakan barang-barang elektronik, melonjaknya pembayaran rekening akibat daya yang tidak stabil, dan terhambatnya aktivitas sehari-hari.

Satu bulan terakhir ini, ternyata “penyakit” PLN kambuh lagi, pemadaman listirik secara bergilir selama dua kali empat jam kembali di lakukan PLN di wilayah Sumut. Tentu hal ini menimbulkan respon keras dari pihak masyarakat Sumut. Lagi-lagi alasan yang sama dimunculkan: “adanya perbaikan mesin pembangkit listrik, karenanya masyarakat dimintakan untuk hemat dalam pemakaian listrik agar pemadaman tidak terjadi”. Apakah ini alasan yang logis?

Bicara soal penghematan, pada prinsipnya tidak dapat dijadikan sebagai alasan pemadaman listrik oleh PLN. Sebab, cukup ironis ketika toh PLN tidak memadamkan listik selama 24 jam penuh pada hari Minggu. Ada apa dibalik semua ini? tanya masyarakat yang merasa dirugikan, alih-alih masyarakat mencurigai bahwa PLN telah bekerjasama dengan perusahaan genset, dan pada hari minggu karyawan PLN libur sehingga listrik lupa mereka padamkan, atau jangan-jangan mereka ingin menikmati hari liburnya dengan menonton televisi di rumah.

Jika hari minggu listrik bisa berjalan normal, mengapa hari Juma’at tidak?, ini persoalan yang tak kalah menarik. Sebuah kritik dilontarkan dari kalangan umat Islam, demonstrasi lumayan besar dilakukan oleh pihak IKADI (Ikatan Dai Indonesia) Sumut dengan meminta pihak PLN Wilayah Sumabagut tidak memadamkan listrik ketika umat Islam beribadah pada hari Jum’at. Walhasil, aksi demonstrasi yang dilakukan IKADI Sumut menampakkan hasil yang tidak sia-sia, sebab pada saat umat Islam melaksanakan ibadah “Sholat Jum’at” listrik benar-benar tidak padam, meskipun usai ibdah Sholat Jum’at listrik kembali dipadamkan. Khabarnya, ketua umum IKADI sudah merasa puas dengan hasil yang diperoleh; “listrik tidak padam pada saat Sholat Jumat”.

Soal PLN tidak memadamkan listik karena statement yang disampaikan IKADI – atau siapapun, tentu menjadi kebanggaan kita bersama. Namun beda halnya ketika statemen tersebut diatas namakan “umat Islam”, untuk ibadah sholat Jumat, atau dengan istilah “pemadaman listrik telah merugikan umat Islam, menghambat aktivitas umat Islam yang ingin beribadah”, lantas apakah umat Islam saja yang dirugikan dengan pemadaman tersebut?.

Kurang dari setahun yang lalu juga, ketika pemadaman listrik secara bergilir selama lebih dari satu tahun lamnaya dilakukan PLN wilayah Sumbagut, KNPI Kota Medan menggelar acara “Dialog Interaktif antara PLN, Pemuda dan Masyarakat” di Garuda Plza Hotel Medan. Pada acara tersebut, beberapa perwakilan masyarakat yang mengatas namakan umat Islam meminta PLN untuk tidak memadamkan listrik selama bulan Ramadhan, jika ketika piala dunia PLN dapat menghidupkan listrik secara normal selama satu bulan penuh, mengapa bulan Ramadhan tidak?. Sekali lagi, mengapa harus bulan ramadhan?, apa bedanya dengan bulan Desember – barangakali?, mengapa kita kerap memperjuangkan kepentingan bersama atas nama “Islam?”. Tidak bisakah kita berteriak – dengan melepaskan embel-embel khusus – untuk menyuarakan “atas nama masyarakat Sumatera Utara!”.

Kasus ini merupakan contoh kecil dari sekian banyak contoh besar kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memperjuangkan “hak bersama”. “Umat Islam” seharusnya menyadari bahwa listrik adalah kepentingan bersama, kebutuhan seluruh masyarakat yang ada di Sumatera Utara, bahkan Indonesia. Islam hanya sebahagian dari seluruh manusia yang ada di muka bumi ini, untuk itu kita harus dapat membedakan mana yang seharusnya disuarakan atas nama “Islam”, mana pula yang harus diperjuangkan untuk kepentingan bersama. Sebaliknya PLN, mestinya juga harus sadar bahwa mereka juga merupakan bahagian dari masyarakat itu, oleh karena itu, jangan sampai ada dusta diantara kita. Semoga!.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • salman nasution  On Agustus 8, 2007 at 3:07 pm

    say berefikir sebagai makhluk Tuhan.]
    kasus diats merupakan contoh dari tidak adilnya umat islam dalam memperjuangkan umat.]
    umat islam selalu berfikir praagmatis bisa saja dikatakan umat islam harus diatas dari umat yang lain dalam hal negatif
    contoh kecilnya
    kalau ada masjid dalam pembangunan, umat islam berbangga hati, tetapi kalau dibangunnya sebuah gereja umat islam ribut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: