Kegelisahan: Gejala Ketakutan Beragama

Oleh: Alamsyaruddin Pasaribu (Aktivis JarIK Medan)

Saya manusia yang mengakui dan percaya adanya Tuhan, karena tidak ada sesuatu apapun tanpa ada Penciptanya. Lalu saya ingin mencari bagaimana cara bersikap kepada Tuhan tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan yang bersifat universal. Kemudian saya mendapatkan informasi bahwa agamalah solusinya yang akan mengajarkan itu semua. Namun, saya melihat suatu kejadian bahwa ketika seseorang atau saya masuk ke agama Kristen atau budha, atau hindu atau “yang lainnya” maka sebagian umat Islam menganggap kristen itu tidak benar dan sebaliknya ketika saya masuk agama Islam maka sebagian umat agama-agama lainpun menganggap bahwa agama Islam tidak benar.

Saya bingung dan heran dengan keadaan ini. Di beberapa tempat terjadi perang baik antar-agama ataupun intra-agama. Misal saya islam, saya di jahui, di perangi, di musuhi oleh sebagian umat yang beragama selain islam dan demikian juga ketika saya beragama Kristen, atau Budha, atau Hindu atau “yang lain”nya saya akan di musuhi, di diskriminasi, di perangi oleh sebagian umat yang beragama Islam. Lalu saya bertanya: saya harus beragama apa agar saya memperoleh kedamaian, ketenangan, kebahagian, dan hidup berdampingan sesama manusia dengan cinta kasih tanpa membedakan status keagamaannya?.

Orang yang beragama Islam yakin bahwa mereka menyembah Tuhan, Kristen yakin bahwa mereka juga menyembah Tuhan demikin juga dengan agama Budha dan Hindu juga yakin bahwa mereka menyembah Tuhan. Kalau demikian, mengapa kita harus gontok-gontokan , toh sama-sama menyembah Tuhan.

Lalu ada teman yang mengatakan pada saya bahwa Tuhan Islam tidak sama dengan Tuhan Kristen, Tuhan Kristen tidak sama dengan Tuhan Hindu atau Budha, Tuhan Budha atau Hindu tidak sama dengan Tuhan Islam. Mendengar itu saya berfikir, jika demikianlah pikiran orang-orang yang beragama berarti mereka itu munafik. Karena menurut setiap agama Tuhan itu Esa atau Tuhan itu satu yang berarti Tuhan adalah Tuhan seluruh umat manusia yang menciptakan seluruh alam dan isinya. Kalaulah Tuhan setiap agama itu beda maka artinya masing-masing “Tuhan” akan menciptakan sesuai dengan bagian-bagian-Nya. Misal, “Tuhan” Islam akan menciptakan manusia yang beragama Islam, “Tuhan” Kristen akan menciptakan manusia yang beragama Kristen dan demikian juga dengan “Tuhan” Budha, Hindu dan lain-lain. kalau begitu “Tuhan” siapa yang menciptakan pohon-pohon, binatang, planet, gunung, lautan, danau dan benda-benda lainnya? ah…. saya jadi ragu untuk menganut agama-agama tersebut. Teman saya kebetulan adalah agama Islam dan dia menunjukkan satu ayat “…sesungguhnya agama disisi Tuhan adalah Islam” (QS.3:19). Saya kemudian bertanya apakah arti sebenar islam dalam ayat itu?.

Lalu saya mengkaji lebih dalam lagi maksud dari ayat tersebut. Setelah saya membaca berbagai sumber dapat saya simpulkan :

menurut saya ada dua arti dalam kata islam ini, yang pertama, suatu kepasrahan diri kepada Tuhan menuju jalan keselamatan. Yang kedua, melihat dari pengotakan-pengotakan agama-agama yang ada berarti islam itu adalah seperti suatu lembaga, atau organisasi yang bergerak dalam bidang pencapaian atau pendekatan diri kepada Tuhan (Tuhan masing-masing agama).

Dapat ditelaah:

Dari kasus pertama, maka yang dinamakan Islam itu adalah orang-orang yang berpasrah diri kepada Pencipta alam dan seluruh umat manusia demi menuju keselamatan dan kedamaiannya. Maka orang yang patut dikatan Islam itu adalah orang yang demikian, diluar yang demikian bukanlah Islam. Dantidak terpungkiri juga jika kaum nasrani atau kristen, kaum Budha, Hindu serta kaum islam adalah orang-orang yang islam. Karena tidak adanya kepasrahan diri kepada Tuhan tadi maka terjadilah kekacauan baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya.

Dari pengamatan saya, ternyata kebanyakan orang-orang yang beragama mengartikan agama itu seperti suatu “lembaga”. Manusia ingin menang sendiri, memaksakan kehendak, ingin hanya ideologinya atau prinsipnya yang diikuti, ingin “lembaga”nya berada paling atas atau ingin semua orang masuk dalam “lembaga”nya itu. JIka ada yang tidak sesuai dengan keyakinannya akan dimusuhi, diperangi dan dibantai. Inilah yang akan terjadi bila agama itu diartikan sebagai seperti suatu “lembaga”. Maka terbuktilah bahwa manusia itu hanya membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Padahal Tuhan telah menjamin manusia disaat manusia hendak diciptakan (lihat QS.2:30).

Melihat beberapa kasus kekerasan antar dan intra-agama yang telah terjadi, maka saya takut untuk masuk kedalam salah satu “lembaga” agama yang ada. Mungkin beribu-ribu orang telah merasa demikian dan bisa jadi tidak akan ada lagi orang yang masuk kedalam “lembaga-lembaga” agama itu (Islam, Hindu, Kristen, Budha dan lain-lain). jika hal ini yang terjadi di khawatirkan akan timbul gejala ketakutan terhadap agama.

*Penulis adalah: Pelaksana Program Diskusi Dibawah Pohon Rindang (DPR) JarIK Medan-Sumatera Utara

Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: