Penutup Kepala, Kenapa Tidak

slide1.jpg
Oleh: Iyya Maliya (JarIK Bandung)

Apakah saya bukan perempuan baik-baik? saya masih belum tau apa saja criteria perempuan baik-baik. ….
Karena duniaku tidak mengajarkan apa yang baik, tapi apa yang aku inginkan. Tanpa menilai apakah itu baik atau tidak! Tapi, tetap konsekuensi dengan segala keputusan dan bertanggungjawab dengan pilihan.

Ketika akan masuk ke SMP ortu saya menawarkan untuk masuk MTs Muhammadiyah karena saya tidak lolos masuk SMP Negri. Dengan segera saya menolak tawaran ke MTs atau SMP Muhhamadiyah alasannya sederhana karena saya tidak ingin memakai kerudung ke sekolah.

Orang tua saya juga tidak memaksa saya untuk masuk kesekolah tersebut. saya rasa alasan orang tua saya menawarkan saya untuk sekolah disana bukan karena mereka menganut paham/aliran salah satu dari itu, melainkan karena factor biaya yang relative murah dibandingkan dengan sekolah swasta yang lain.

Dan pada akhirnya sayapun masuk pada salah satu SMP swasta pilihan saya. Dengan salah satu alasan sekolah tersebut tidak memakai kerudung dan lagi pula memang cukup baik kualitasnya meski biayanya agak sedikit mahal.

Sayangnya, Ketika memasuki tahun ke-2/ naik kelas 2, sekolah sayapun menerapkan aturan baru, yakni 5 menit pada jam pertama sebelum melasanakan kegiatan belajar para siswa diharuskan untuk membaca Al Qur’an terlebih dahulu. Peraturan itupun tak pelak saya tolak, dengan alasan bahwa kita adalah umat muslim dan membaca al-Qur’an itu adalah sesuatu yang baik dan juga mendapatkan pahala.

Hingga memasuki kelas 3 cawu ke-2, ada peraturan yang mewawajibkan siswinya untuk memakai kerudung setiap hari jum’at. Dan jika tidak melaksanakannya maka akan mendapatkan teguran dari guru kesiswaan. Sayapun tidak merasa keberatan dengan aturan itu, hanya saja kagok untuk membuat baju seragam baru yang dalam beberapa bulan lagi sekolah saya tuntas. Alhasil setiap hari jumat saya memakai kerudung meski seragam itu saya pinjam dari kakak saya yang sekolahnya memakai kerudung. Walau terkadang saya juga tidak mematuhinya karena lupa atau disengaja. Karena aturan dikerudung pada hari Jum’at itu ada ketika waktu akhir-akhir SMP saya selesai, saya juga tak terlalu memikirkan aturan itu.

Menginjak SMA pun saya tetap memilih sekolah yang bebas seragamnya dalam artian tidak memakai kerudung, karena saya tidak merasa PD jika berkerudung. Mengingat postur tubuh saya yang tidak semampai. Ketika selesai melaksanakan MOS kepala sekolah mengumumkan peraturan yang harus ditaati oleh siswa dan siswinya. Ternyata, dari pihak yayasan menerapkan aturan baru yakni seluruh sisiwinya harus memakai kerudung/jilbab dan itu didukung penuh oleh kepala sekolah saya. Pada awalnya hal itu membuat saya kecewa, tapi tak apalah toh saya masih bisa tidak memakai kerudung diluar jam sekolah. “Itu hanya sekedar seragam” pikir saya.

Namun hal itu tidak disetujui oleh beberapa siswi, mereka merasa keberatan dengna aturan itu. Sampai-sampai mereka mengumpulkan massa untuk berdemo ke kepala sekolah agar peraturan itu dicabut dan kembali keperaturan lama. Tapi, saya tidak mengikuti aksi itu, saya fikir bahwa itu adalah aturan dan sebagai siswi saya hanya bisa mengikuti dan jika tidak ingin mengikuti peraturan, pindah sekolah saja memilih yang bebas. Pada hari pertama sekolah rekan-rekan saya berdemo dengan tidak memakai seragam berkerudung. Itu berlangsung hingga beberapa hari. Otomatis kepala sekolah saya tak suka hal itu dan menantang mereka (yang berdemo) sejauh mana keberaniannya.

Tetapi bagaimanapun usaha teman-teman saya tak membuahkan hasil, malah sebaliknya jawaban yang diberikan kepala sekolah ringan dan cukup menyakitkan seperti apa yang telah kufikirkan sebelumnya. “jika kalian tak ingin mengikuti peraturan yang ada disini, gampang kalian tinggal angkat kaki dari sini dan cari sekolah lain yang sesuai dengna keinginan kalian”, jawabnya dengan tegas. dan pada akhirnya mereka yang berdemopun pasrah pada aturan.

Tapi tetap tak menyurutkan mereka untuk tampil modis, meskipun memakai kerudung tetap saja tak sesempurna apa yang diharapkan sekolah. Dan pada akhirnya menjadi langganan razia termasuk saya.

Kini, masalah itupun kembali menghatui saya, ketika saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke UIN yang berbasis islami. Kebiasaan saya yang tidak memakai kerudung sehari-hari membuat saya lenggang berjalan tanpa merasa dosa jika tidak memakai kerudung keluar. Ataupun ketika ada laki-laki disekeliling saya, karena saya menganggap bahwa itu adalah hal yang biasa.

Lain halnya dengna teman-teman saya yang ada dikosan. Mereka akan bertanya dulu siapa yang datang ketika pintu kosannya ada yang mengetuk, jika perempuan maka akan segera dibuka dan jika laki-laki mereka akan ribut satu dengan yang lainnya seperti tidak pernah melihat makhluk laki-laki sebelumnya, untuk mencari kerudung. Dan tidak membiarkan rambutnya terlihat oleh laki-laki. Pada awal kedatangan saya kesini saya merasa aneh dengan keadaan itu, kenapa harus demikian?.

Sekarang setelah saya hampir 2 tahun berada dilingkungan UIN, hal itu masih jadi beban di benak saya. Karena hingga kini saya masih belum bisa memakai kerudung seutuhnya apalagi jika untuk acara diluar jam kampus. Dan hal itupun untuk sebagian orang dianggap tidak memiliki etika, teman saya pun berkomentar “masa mahasiswi UIN tidak memakai kerudung” katanya. Hal itu tidak bisa saya jawab. Dan yang satu lagi pun tak kalah mengomentari “itukan telah melanggar etika”.

Sedikitnya saya juga merasa tersinggung ketika menyoal tentang ETIKA. Saya rasa itu tidak melanggar etika dan saya nyaman menjalaninya. Saya pun mencoba mencari tahu apa arti etika secara bahasa, dan etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak). Jika demikian seperti apakah atika yang seharusnya?

Dan sekarang hujatan itupun masih ada didepan mata saya tertera dalam papan ungu “berbusana yang sopan”! entah apa maksudnya, saya rasa saya terlalu sopan dengan baju yang saya pakai!!!.

Mungkin mereka tidak mengerti bahwa saya belum berjilbab!!

Apakah dengan tidaknya saya memakai kerudung itu adalah sesuatu yang salah?, akan tetapi jilbab yang seharusnya tidak pernah dipermasalahkan selama ini kepada saya, padahal selama ini saya masih berkerudung akademik saja. Dan belum berjilbab.

*Penulis adalah: aktivis Jarik Bandung

Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: