Allah Bukan Tuhan Umat Islam?

ekomarhaendy-48.jpg

Oleh: Eko Marhaendy*

Dalam sebuah kesempatan saya membaca tulisan sdr. Mukhlish, seorang mahasiswa di Fak. Dakwah IAIN Sumatera Utara Medan berjudul Paradima Pemahaman Liberal; Allah Bukan Tuhan Umat Islam. Beliau mengaku menyajikan tulisan ini dengan berangkat dari sebuah lembaga Sains Community Study Club. Dalam tulisannya tersebut beliau mempertanyakan siapa, bagaimana. Serta dimana Tuhan? yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa “Allah bukan Tuhan umat Islam”.

Sejujurnya, saya butuh waktu yang cukup panjang untuk memahami tulisan sdr. Mukhlish bertajuk Paradigma Pemahaman Liberal; Allah Bukan Tuhan Umat Islam. Pasalnya, saya menemukan kesulitan untuk memastikan apa yang menjadi persoalan dalam tulisan tersebut, persoalan Tuhankan?, atau persoalan pemahaman liberal?. Bahkan, saya hampir menyimpulkan bahwa sdr. Mukhlis ingin memaparkan: “Allah bukan Tuhannya umat Islam menurut pemahaman liberal”. Namun, dengan telaah yang sederhana, akhirnya saya menyadari sdr. Mukhlish sesungguhnya ingin menyingkap wacana Ketuhanan dengan mengaitkannya terhadap pemahaman liberal sebagai sebuah komunitas yang menjadi perbincangan hangat dalam dunia Islam Indonesia belakangan ini. Sayangnya, wacana menarik yang beliau lontarkan tidak memberikan penyelesaian yang jelas, sehingga mengundang kritik tajam dari berbagai kalangan. Karenanya, dalam uraian sederhana ini saya akan memaparkan terlebih dahulu sekelumit persoalan “Ketuhanan”, selanjutnya menyinggung sedikit fenomena liberal yang juga disinggung dalam tulisan sdr. Mukhlis.

Wacana “Tuhan” Ditinjau dari Beberapa Aspek
Dalam sebuah dialog kecil, Kautsar Azhari Noer memberikan pernyataan kepada seorang pegawai kantor Depag yang kebetulan beragama Budha. Beliau mengatakan bahwa agama Budha tidak memilki konsep yang jelas tentang Tuhan, bahkan Sidharta Ghautama tidak pernah memberikan pemehaman yang jelas tentang Tuhan. Pegawai tersebut merespon pertanyaan Kautsar dengan mengatakan: Islam sendiri mencoba membatasi Tuhan, Islam mengatakan Tuhan “begini dan begitu”, Islam mencoba melekatkan nama Tuhan, Islam mencoba mendefenisikan Tuhan yang tak terbatas dengan bahasa manusia yang serba terbatas (sumber: artikel Paramadina)

Tuhan sebuah kata yang mudah disebut namun sulit untuk dibuktikan, bahkan ada kesan “membingungkan” ketika Tuhan dibicarakan, karenanya Tuhan “tak perlu dibicarakan”. Akan tetapi ada pula yang justru merasa senang ketika membicarakan Tuhan, ada kepuasan bathin tersendiri saat Tuhan dibicarakan, sebab seperti yang pernah disebutkan seorang aktivis JIMI (Jaringan Intelektual Muda Islam), zikir yang hakiki bukanlah mengucapkan “lafazh-lafazh” tanpa pernah mengerti makna, namun zikir yang hakiki adalah ketika Tuhan dibicarakan.

Dalam sebuah materi ketuhidan yang disampaikan disalah satu kegiatan pelatihan di kota Medan, pemateri dengan meminjam pendapat Mukti Ali menyebutkan bahwa essensi Tuhan dalam wacana Tauhid bukanlah Tuhan yang “esa” (satu), akan tetapi “Tuhan pemersatu”. Pemersatunya Tuhan dapat dilihat dari sifat-sifat yang dilekatkan kepada-Nya, yang essensinya adalah sifat manusia, namun ditambah dengan sifat “maha”, totalitas dari sifat-sifat manusia itulah yang menunjukkan Tuhan sebagai pemersatu. Oleh karenanya tauhid yang sempurna adalah ketika manusia mampu merasakan bahwa mereka berasal dari sumber yang satu, dan tauhid akan sompel manakala manusia merasa ada perbedaan diantara mereka.

Pada kesempatan lain, seorang dosen dalam perkuliahan meminta mahasiswanya untuk memaparkan Tuhan menurut persepsi masing-masing. Dapat dipastikan, tidak ditemukan satu persepsi yang sama tentang “bagaimana Tuhan”, sungguhpun mereka setuju Allah adalah Tuhan mereka. Melihat kondisi tersebeut, sang dosen dengan gamblangnya mengatakan “jangan-jangan Tuhan kita berbeda”. Jika persepsi yang diminta, maka tidak dapat dibantah bahwa Tuhan masing-masing bisa saja berbeda. Apalagi Tuhan sampai hari ini hanya dapat dibuktikan dialam ide, kebenaran Tuhan tidak dapat dibuktikan secara koresponden, melankan praghmatis.

Masih tentang Tuhan, meminjam keyakinan umat Nasrani, kita dapat melihat sosok Tuhan sebagai zat tunggal yang patut diper-Tuhankan. Sebagaimana yang termaktub dalam al-Kitab: “Allah benar yang tunggal (Eloah) adalah satu-satunya Tuhan, sebelum dia tidak ada Allah dibentuk, dan sesudahnya tidak akan ada lagi” (Yesaya/ 43: 10). Terlepas dari keyakinan masing-masing, dalam tataran ini tampak adanya kesamaan memahami konsep Tuhan diantara pemelu Nasrani dan umat Islam. Lihatlah bagaimana Tuhan dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai “Tuhan yang esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tiada yang setera dengan-Nya” (al-Ikhlash/ 112: 1-3) Dari beberapa wacana yang dipaparkan diatas kiranya telah cukup membantu kita untuk memahami – paling tidak – sedikit saja konsep tentang Tuhan, atau justru kita akan semakin khawatir menyimpulkan “apa dan bagaimana Tuhan”, sehingga membatasi diri hanya dengan cukup “mengimani-Nya” saja. Saya sendiri tidak mempunyai keberanian yang besar untuk menyimpulkan secara mutlak konsep Tuhan, hanya saja mengetahui Tuhan sebagai zat yang di Tuhankan menjadi harus jika kita mengaku ber-Tuhan. “Aku hanya dapat diketahu lewat prasangka hamba-Ku, maka berprasangka yang baiklah tentang Aku” kata Tuhan dalam sebuah hadits kudsi. Setidaknya hadits ini dapat membantu kita untuk lebih terarah mengenal Tuhan.

Liberal dan Pemahaman Ketuhanan
Ada sebuah stigma yang muncul dikebanyakan masyarakat Islam tentang pemahaman liberal (khususnya JIL, baca: Jaringan Islam Liberal), bahwa mereka berupaya menyamakan seluruh agama yang ada. Pertanyaannya: apa benar demikian?. Argumentasi pembenaran stigma tersebut antara lain dapat dilacak dalam buku yang ditulis Hartono Ahmad Jaiz: Membongkar Bahaya JIL dan FLA, sebuah karya yang menunjukkan kesesatan JIL dan buku Fiqih Lintas Agama (FLA) yang mereka terbitkan dengan alasan adanya upaya-upaya menyamakan seluruh agama. Sebagai contoh: kasus dibolehkannya menjawab salam orang diluar Islam, pernikahan beda agama atau doa bersama, yang menurut kebanyakan ulama “haram” dalam ajaran Islam (baca: Fiqih Lintas Agama)

Sebagai perbandingan, Nurcholish Madjid tentang pluralitas agama – sebagai salah satu yang diusung JIL – menuliskan: “…Tuhan telah membangkitkan pengajar penganut kebenaran (nabi, rasul) kepada semua umat manusia tanpa kecuali, dan pada inti ajaran mereka semuanya adalah sama dan satu, yaitu ajaran tunduk-patuh dan taat-pasrah kepada Tuhan yang disebut al-Islam (dalam makna generik-pen), maka sesungguhnya dialog (inklusivisme-pen) adalah sesuatu yang tidal saja dimungkinkan, malah diperlukan jika tidak dikatakan harus (Nurcholish Madjid. Dialog Agama-Agama Dalam Perspektif Universalisme al-Islam dama Pasing Over; Melintasi Batas Agama. Paramadina dan Gramedia Pustaka. Jakarta. 1999. h: 19) dari sini dapat kita lihat bahwa kehadiran pemahaman liberal sesungguhnya ingin mempersepsikan wacana Ketuhanan yang satu dan sama dengan pendekatan “theologi wahyu”. Sebagaimana disinggung sebelumnya, bahwa konsep Tuhan yang tidak terbatas mustahil dirasionalkan dengan kemampuan akal manusia yang serba terbatas, maka hanya ada satu kata bahwa “Tuhanku-Tuhanmu dan Tuhan kita” essensinya merupakan Tuhan yang satu, Tuhan yang hanya mungkin diketahui melalui prasangka manusia.

Tak jarang manusia bertengkar hanya karena persoalan “Tuhanku-lah yang sebenarnya Tuhan, bukan Tuhan-mu”, sehingga menimbulkan konflik berkepanjangan, maka berdasarkan wacana inilah JIL dilahirkan. Dengan semangat pluralitas dan kebersamaan yang pada intinya menuju kepada Tuhan yang satu. Hal ini pula yang memungkinkan Islam hanya dapat dipandang sebagai agama rahmatan lil’alamin yang mampu bertahan disegala zaman, bukan Islam yang berwajah “sangar dengan istilah yang selalu dipropagandakan barat “pedang di tangan kanan, al-Qur’an di tangan kiri”

Penutup
Akhirnya, sajian sederhana ini hendaknya dapat dijadikan sebagai salah satu hasil dialog positif untuk meluruskan wacana yang dimunculkan dalam tulisan sdr. Mukhlish. Persoalan Allah bukan Tuhan umat Islam, atau justru Allah Tuhannya segala umat, agaknya hanya segelintir perbedaan bahasa untuk menyebutkan Tuhan, yang pada intinya Tuhan hanya dapat dipersepsikan melalui prasangka manusia.

*Penulis adalah kordinator Jaringan Islam Kampus Sumatera Utara
Penulis dapat dihubungi di eko_marhaendy@yahoo.co.id/ http://www.ekomarhaendy.wordpress.com

Trackbacks are closed, but you can post a comment.

Komentar

  • princess135  On Mei 16, 2007 at 12:54 pm

    lihat juga http://princess135.blogspot.com

  • salman nasution  On Agustus 14, 2007 at 10:19 am

    saya semakin terbodoh2 melihat ulama2 indonesia.
    kalo kita bilang mereka bodoh mereka ulama, tapi kalo kita bilang mereka pintar tapi bodoh artinya ulama = bodohdan saya tidak sepakat kalao mereka dikatakan ulama karena kebodohan mereka.
    mas eko saya sepakat kalo Allah bukanlah tuhan umat islam saja. tapi sya lebih sepakat kalo tuhan milik semua.masalah kebenaran dan kekeliruan itu nanti di pertanggung jawabkan. berikan kebebasan kepada umat utuk menetukan tuhan yang jelas dapat di pertanggung jawabkan

  • Semuanya yang bertengkar soal agama sebenarnya mereka semuanya tidak mengetahui apa-apa tentang agama, sebelum datang yang wajib ditunggu-tunggu dan tidak dilupakan apa yang dihujjahkan oleh Nabi Muhammad saw. didalam kitab sucinya yaitu:

    1. Al A’raaf (7) ayat 52,53: Datangnya Allah menurunkan Hari Takwil Kebenaran KItab.

    2. Fushshilat (41) ayat 44: Datangnya Allah manjadikan Al Quran dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain dalam bahasa arab.

    3. Thaha (20) ayat 114,115: Datangnya Allah menyempurnakan Al Quran, berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia.

    4. Al Mujaadilah (58) ayat 6,18,22: Datagnya Allah membangkitkan manusia semuannya dengan ilmu pengetahuan agama.

    5. Ali Imran (3) ayat 19,81,82,83,85, Al Maidah (5) ayat 3, Al Hajj (22) ayat 78, Al Baqarah (2) ayat 208: Datangnya Allah menyempurnakan agama disisi Allah menjadi AGAMA ALLAH.

    6. An Nashr (110) ayat 1,2,3: Datngnya Allah menciptakan AGAMA ALLAH sebagai wadah berbondong-bondongnya manusia yang berpersepsi agama yang pecah belah melalui ilmu Persepsi Tunggal Agama dengan damai Hudaibiyah zamani.

    7. Al Baqarah (2) ayat 148: Semua kiblat agama-agama yang berbeda-beda akan PASTI dikumpulkan dalam Persepsi Tunggal Agama didalam AGAMA ALLAH.

    8. At Taubah (9) ayat 97: Kesemuannya datang turun di Negara Kesatuan Republik Indonesia awal millennium ke-3 masehi dan penolaknya PASTI orang yang kearab-araban yang tidak berfalsafah Panca Sila.

    Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.

  • mumtaz  On November 6, 2007 at 9:30 am

    bawasanya allah itu adalah: tuhan yang patut di sembah

  • SYARIFUDDIN AL ASHARY  On Desember 1, 2007 at 6:26 am

    MENURUT SAYA,ALLAH ADALAH TUHAN YANG MAHA MENGETAHUI.MANUSIA TIDAK BERHAK MEMPERSOALKANNYA.KARENA MANUSIA MEMILIKI DAYA PIKIR YANG TERBATAS.SEBAGAI SALAH SATU ULAMA TERTINGGI,SAYA MENGAJAK KAUM MUSLIM UNTUK PERCAYA KPD KEIMANAN YANG HAKIKI.KARENA ITULAH,SEMBAHLAH ALLAH TUHAN SEMESTA ALAM.DAN DAPTARKANLAH PUTRA/PUTRI ANDA UTK MENUNTUT ILMU AGAMA DI “PONPES NURUL FURQON CIBINONG” TERUTAMA ILMU QUR’AN.DIJAMIN 100% ANAK ANDA AKAN LIHAI DALAM ILMU AGAMA DAN UMUM.PERCAYAKAN KPD PIMPINAN PONPES “Prof.Dr.KH.JEJEN SYUKRILLAH,S.Pd.I,M.Th”YG ARIF.SAKING ARIFNYA NGOMEL2 MELULU!!! WASPADALAH……WASPADALAH……!!!

    • muhammadwildan  On November 24, 2009 at 4:28 pm

      kepada saudra SYARIFUDDIN AL ASHARI kmi mhon kpada saudara untuk tidak mencoreng nma baik pondok pesantren NURUL FURQON………..
      wajar sajalah nama nya juga seorng gru pasti akan emosi/marah melihat murid nya nakal/bandel……..
      tidak ada guru yang diam saja klo melihat murid nya itu nakal/bandel……
      mungkin anda termasuk murid yg tdak patuh terhadap gru sewaktu anda pesantren di nurul furqon???jdi gru itu akan mrah ke kta..
      kta sbgai murid harus menerima omelan dri gru klau memng kta slah….anggap saja itu sbagai DO’A buat kita…
      dan jangan smpai seorang murid menjelkan nma baik gru,smua gru itu pasti ada kekurangn nya dan kelibihan nya..jdi kta hrus melihat kelibihan gru itu tersebut,dan kekurangn nya kta buang jauh2……
      siapa saja murid yang mencoreng nama baik guru/pesantren mudah-mudahan kita doa kan,supaya dia di berikan kesadran dan hidayah oleh ALLAH SWT…… amian ya robbal ‘alamin..

  • Sunarta  On Januari 28, 2008 at 8:26 am

    Saya hanya ingin menanyakan, apakah nama Prof.Dr.KH. Jejen Syukrillah disini yang pernah mesantren di Al-furqon Cilendek (dulu), sekolah di PGAN Bogor apa bukan?mohon jawaban. kalau ia beliau adalah teman Saya. terima kasih

  • Cynthia  On Mei 8, 2008 at 4:15 am

    Menurut saya,Allah itu tuhan. yg jlz tuhan adalah milik semua yg ad d alm semesta ni bkn hnya umat islam.
    saya pun mnjdi bngung saat saya lihat buku yg brjdul ” allah bukan tuhan ”
    LALU . . . ? ?

  • syahri Js Syariah  On Desember 17, 2008 at 2:19 pm

    ???????? saya bingung

  • Fauzi  On Maret 11, 2009 at 6:52 am

    Dalam AlQuran Allah berfirman:
    ” Katakanlah “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” QS Al-An-aam 162.
    Allah yang memiliki semua yang ada di alam semesta ini. Bagi seorang muslim sudah jelas bahwa ia mengakui Allah, tetapi belum tentu bagi orang non muslim mau mengakui Allah sebagai Tuhan semesta alam.
    Tetapi masalahnya tidak hanya cukup sekedar mengakui bahwa Allah itu sebagai Tuhan, tetapi kepatuhan kita kepada apa yang Allah perintahkanNya adalah menjadi catatan penting dalam hidup kita. Karena kita tahu syaitan juga mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi ia ingkar, sehingga Allah meletakkan dia dalam golongan orang yang kafir (” Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” QS Al-Baqarah 34)
    Dalam QS Al-An-Aam 162 di atas, Allah telah memerintahkan dan mengingatkan kita bahwa apapun yang kita lakukan adalah dengan niatan mencari keridhaan Allah. Marilah kita landasi semua pikiran, tindakan, termasuk tulisan kita hanya untuk mencari keridahaanNya, bukan dengan motivasi lainnya.
    Note : Untuk sdr. Soegana, saya melihat isi ayat alQuran yang bapak terangkan berbeda dengan isi sebenarnya dari AlQuran, apakah ini juga bentuk kebebasan berpendapat/berpikir yang membangun?? apakah bukannya justru menyesatkan?? kebebasan seperti apa sebenarnya yang kita perlukan??
    Bagi seorang muslim cukuplah Al-Quran dan Hadits sebagai petunjuk hidupnya.
    sebagaimana QS Al-Baqarah 2-4: “Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.”

  • adin  On Februari 4, 2010 at 5:52 am

    saya sepakat bahwa Allah adalah bukan tuhan karena tuhan itu sangat banyak tetapi kalo bicara tentang Allah Dia yang Esa dan bersifat Absolut, gesting, dan unik.

  • sunan kong  On April 2, 2010 at 7:02 pm

    Syahadah kita;
    La’ Ilaaha Illa Allah
    bermaksud; La’ (Tiada) Ilaaha (Tuhan) Illa (Kecuali) Allah (Allah).
    Ini bermaksud…Allah telah berkata; TIADA TUHAN KECUALI AKU (ALLAH). Jadi mengapa harus bercakaran untuk mencari kebenaran sedangkan terang2 Allah itu bukanlah tuhan kerana Allah telah menolaknya. Nabi Muhammad & rasul2 terdahulu menyampaikan kpd umat utk mengenal Allah kerana waktu itu semuanya menyembah tuhan…jadi untuk mengenalkan Allah itu, rasul & nabi2 menyatakn Allah itu tuhan pada waktu itu kerana untuk memahamkan mereka. Jadi, al-quran itu sebenarnya sebagai rujukan dan pemahaman untuk org2 yg mencari Allah. Bagi islam yg telah mengenal, harus beriman hanya sebenar2nya kpd ALLAH SAHAJA.

  • Marcelino Farley  On Mei 28, 2010 at 3:47 am

    Hah am I actually the first reply to this incredible post?

  • zia  On Desember 3, 2010 at 11:55 am

    tuhan itu cuma satu,,,
    yang patut di sembah cuma satu,,,
    tuhan hanya ALLAH swt.
    jangan menjelek-jelek kan agama islam,,
    jika kamu gak tau islam itu gimana,,
    lihat aja pembalasan siapa saja yang menjelek-jelekan agama islam
    dan ALLAH,,,,
    dia dapet balesan di akhirat nanti,…
    dasar loe bisa na cuma ngejek-ngejek doank,…

  • rollercoaster  On Juni 28, 2011 at 11:09 am

    mungkin allah tu bukan tuhan yang sebenarnya,sebab tak ada bukti yang menunjukkan allah itu wujud,yang ada cuma al quran tapi sesiapa pun boleh tulis quran…….ia cuma buku dan ada tulisan di dalam………

  • rollercoaster  On Juni 28, 2011 at 11:24 am

    kalau allah itu memang tuhan,untuk apa dia cipta manusia?.manusia hidup kemudian mati dan tamat,selepas tu apa allah nak buat bila semua orang dah mati?…………….allah mencipta dan menguji setiap manusia,untuk apa dia buat macam tu?……………maaf kalau saya kurang ajar tapi saya cuma ingin tahu sahaja.

  • Mustamar  On Januari 12, 2013 at 1:47 pm

    Kalau kita selalu bertanya memang susah untuk mengerti tentang Allah. Tetapi kalau melihat alam dan bertanya siapa yang membuat alam ini “mau” teratur, sebab kalau alam tidak teratur maka ilmu manusia tidak ada. Atau bertanya siapa yang memaksa saya menjadi manusia, kenapa saya tidak menjadi harimau misalnya, atau siapa yg memaksa matahari itu menjadi matahari yg selalu membakar diri, dari hipotesa itu maka seharus kita simpulkan ada “energi” yg memaksa alam harus berbuat atau berada pada keadaannya yg dapat kita amati, pertanyaan itu semua akan berkepanjangan dan jawaban terakhir seharusnya “bahwa energi itu ada pada suatu zat yang tak pernah berubah dan itulah “zat Allah”. Untuk tidak kita selalu memikirkan Tuhan, serta kalau untuk memudahkan kita mengimani adanya Allah bagi umat islam telah didefinisikan oleh alqur’an dalam surat ikhlas Allah itu “maha Esa, tidak menyerupai Alam, tempat memintak, tidak beranak, tidak diperanakan dan segala sifat yg disebut dalam. “tidak menerupai alam” harus digaris bawahi, sebab selagi pikiran manusia menyamakan Allah dg “Alam” disaat itulah pemikiran liar manusia terjebak untuk mem”bendakan” Allah. Maka dalam Alqur’an memang dg tegas menyatakan bahwa yg tidak boleh dipikirkan manusia adalah tentang “zat Allah dan Ruh “. semoga ini dapat meluruskan semua pertanyaan dan pernyataan tentang “TUHAN”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: