Analisis Tentang Kerukunan Umat Beragama

Oleh: Drs. Irwansyah, M.Ag

Kerukunan adalah istilah yang dipenuhi oleh muatan makna “baik” dan “damai”. Intinya, hidup bersama dalam masyarakat dengan “kesatuan hati” dan “bersepakat” untuk tidak menciptakan perselisihan dan pertengkaran (Depdikbud, 1985:850) Bila pemaknaan tersebut dijadikan pegangan, maka “kerukunan” adalah sesuatu yang ideal dan didambakan oleh masyarakat manusia. Namun apabila melihat kenyataan, ketika sejarah kehidupan manusia generasi pertama keturunan Adam yakni Qabil dan Habil yang berselisih dan bertengkar dan berakhir dengan terbunuhnya sang adik yaitu Habil; maka apakah dapat dikatakan bahwa masyarakat generasi pertama anak manusia bukan masyarakat yang rukun? Apakah perselisihan dan pertengkaran yang terjadi saat ini adalah mencontoh nenek moyang kita itu? Atau perselisihan dan pertengkaran memang sudah sehakekat dengan kehidupan manusia sehingga dambaan terhadap “kerukunan” itu ada karena “ketidakrukunan” itupun sudah menjadi kodrat dalam masyarakat manusia?.
Pertanyaan seperti tersebut di atas bukan menginginkan jawaban akan tetapi hanya untuk mengingatkan bahwa manusia itu senantiasa bergelut dengan tarikan yang berbeda arah, antara harapan dan kenyataan, antara cita-cita dan yang tercipta.

Agama Apakah yang Dianut Nenek Moyang Kita?
Penganut agama samawi, yakni Yahudi, Nasrani dan Islam mempercayai bahkan mungkin telah menjadikan bagian dari sendi-sendi keyakinan yang utama, bahwa masyarakat manusia ini berasal dari nenek moyang yang satu yakni Adam. Umat Islam (sebahagian) menyebutnya sebagai “nabi”, yaitu “nabi Adam”, dimaksudkan adalah sebagai nabi yang pertama dalam rentang keyakinan bahwa ada paling kurang 25 orang nabi dan rasul yang dipercayai mayoritas umat Islam. Kepercayaan tersebut didasarkan kepada ayat-ayat kitab suci al-Quran yang menyebutkan nama-nama dimaksudkan. Menurut penelitian terhadap istilah nabi dan rasul dalam al-Quran, tidak didapati informasi bahwa ayat al-Quran mengatakan bahwa Adam adalah seorang nabi atau seorang Rasul. Demikian pula ketika meneliti istilah Adam dalam al-Quran tidak juga diinformasikan bahwa Adam adalah seorang nabi atau seorang rasul. Kerenanya kenabian dan kerasulan Adam dalam Islam adalah merupakan pemahaman belaka, atau merupakan tafsir terhadap ayat-ayat kitab suci al-Quran tentang Adam. Al-Quran juga tidak menjelaskan tentang apakah Adam manusia pertama atau bukan manusia yang pertama, sehingga hal ini merupakan bahan polimik diantara ilmuan muslim. Demikian juga al-Quran tidak menjelaskan apakah Adam itu seorang “Bapa” atau “laki-laki” sehingga pasangannya adalah seorang “Ibu” atau “wanita”. Istilah “Hawa” sebagai pasangan atau “istri” Adam tidak pula didapati dalam ayat al-Quran. Namun demikian umat Islam sangat toleransi dalam berbagai pendapat dan interpretasi mengenai hal itu. Misalnya ada yang berpendapat bahwa Adam dan Hawa (dalam tradisi Kristen disebut Eva) bukan manusia pertama, dan tidak berada di surga tetapi di bumi ini. Belakangan ada juga didengar informasi bahwa ada yang berpendapat bahwa Adam itu bukan sebutan untuk “seorang laki-laki”, tetapi “seorang perempuan”. Demikian seterusnya para pemikir muslim berkelana dengan pendapatnya, termasuk soal apa “agama” nenek moyang kita itu. Yahudikah?, Nasrani atau Kristenkah?, Islamkah?, Hindukah?, Budhakah? Agama Kepercayaankah?

Bagi mayoritas masyarakat muslim yang mempercayai bahwa Adam adalah “nabi” dan “rasul” yang pertama, dan Muhammad bin Abdullah adalah “nabi” dan “rasul” terakhir, mereka berpendapat bahkan meyakini bahwa “agama” nabi Adam tentulah “Islam”. Mereka berkeyakinan bahwa dari sejak nabi Adam sampai nabi Muhammad sama “agama”nya yaitu Islam. Pengertian “Islam” dimaksudkan adalah “tauhid”. Pernyataan bahwa “agama” manusia adalah “sama” dalam masyarakat muslim difahami bahwa sama-sama men”tauhid”kan Allah. Akan tetapi ada yang aneh dengan keyakinan mayoritas masyarakat muslim itu, yakni mengapa belakangan terkesan bahwa pengertian “Islam” hanya untuk agama nabi Muhammad saja. Selintas diteliti bahwa al-Quran menyebut agama Ibrahim dan Ya’cub besereta keturunannya adalah Islam (Q.S. al-Baqarah: 132), agama nabi Yusuf adalah Islam (Q.S. Yusuf: 101), dan lagi pula istilah ”Islam” dalam al-Quran muatannya adalah “nilai” bukan “institusi” atau “lembaga”. Hal ini difahami mengingat kata “Islam” dengan derivasinya tidak pernah disebut sebanding dengan kata Yahudi dan Nasrani sebagai sebuah institusi (agama yang terlembaga). Ketika al-Quran menyebut Yahudi dan Nasrani, juga Shobiin, digunakan istilah allazîna âmanû (orang-orang yang beriman) misalnya dalam Surat al-Baqarah ayat 62.

Dalam ayat tersebut al-Quran menyebut allazîna âmanû (orang-orang yang beriman) kepada pengikut nabi Muhammad, untuk membedakannya dengan penganut Yahudi, Nasrani maupun penganut agama “non-samawi” (shôbiîn).). Jadi sebutan “Islam” dalam surat Ali ‘Imran ayat 19: “Inna al-dîna ‘inda Allahi al-Islâm (agama yang diterima oleh Tuhan hanyalah Islam)” bukanlah hanya untuk agama yang dibawa nabi Muhammad saja, tetapi agama yang dibawa oleh semua utusan-Nya. Akan tetapi mayoritas umat Islam memahami ayat “Inna al-dîna ‘inda Allahi al-Islâm (agama yang diterima oleh Tuhan hanyalah Islam)” dengan tanpa menerjemahkan kata Islam kedalam bahasa Indonesia (bagi muslim Indonesia) sehingga melekatlah faham eksklusifis di kalangan mayoritas umat.

Kembali kepada agama nenek moyang kita, bahwa Adam dalam al-Quran diceritakan sebagai makhluk Tuhan yang langsung memperoleh bimbingan, ilmu dan petunjuk dari Allah. Malah hubungannya dengan Tuhan demikian dekat, Allah memberi ilmu kepada Adam tentang “nama-nama” sesuatu, yang karenanya ia dihormati dan dilebihkan dari para malaikat sekalipun (al-Baqarah ayat 31). Oleh Allah, Adam dibebani peraturan dan undang-undang (al-Baqarah ayat 35); Adam melanggar peraturan karena lupa dan lalai serta tidak mempunyai kemauan yang kuat untuk melaksanakan peraturan itu (Thaha ayat 115), kiranya kelanggengan merasakan nikmat hidup dan harapan akan kekuasaan, membuat Adam tak kuat dan akhirnya terpedaya oleh “rayuan setan” (Thaha ayat 20), akhirnya iapun “durhaka” kepada Allah yang menciptakannya, karena melanggar peraturan dan rambu-rambu Tuhan (Thaha ayat 121). Namun al-Quran menceritakan bahwa Adam pun bertobat, lalu Allah menerima tobat Adam (al-Baqarah ayat 37).

Dari kisah di atas, difahami bahwa sesederhana apapun, Adam telah mempunyai “agama”, karena beliau sadar betul bahwa ada Tuhan yang menciptakannya, ada komitmen untuk melaksanakan peraturan dan undang-undang Tuhan, ada pelanggaran terhadap peraturan akibat kelalaian, ada klaim “durhaka”, tetapi ada juga konsep “pertobatan”. Hal ini memang menjadi kemestian bagi semua “agama” yang dianut oleh anak cucu Adam sampai hari ini, baik ia Yahudi, Nasrani, Islam, maupun agama non-samawi (shôbiîn), yakni Hindu, Buddha, dan lain sebagainya.

Agamakah Penyebab Ketidakrukunan ?
Judul buku Perang Suci Atas Nama Tuhan: Dalam Tradisi Barat dan Islam (terjemahan dari: The Holy War Idea in Western and Islamic Tradition) karya James Turner Johnson (1997) dan Berperang demi Tuhan: Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen, dan Yahudi (terjemahan dari: The Battle for God) karya Karen Armstrong (2000), dan judul lain yang senada dengan itu, menjadi indikator bahwa ada kaitan antara “ketidakrukunan” dengan “agama”. Namun untuk menjawab pertanyaan apakah agama sebagai penyebab ketidakrukunan, sulit juga, karena relatifnya batasan pengertian “agama” bagi masing-masing penganut agama. Misalnya saja ketika melihat kasus “Palestina”, sebahagian masyarakat Islam di Indonesia menyikapi hal itu sebagai perang agama (antara Yahudi dan Islam), sehingga melahirkan sikap antipati kepada Yahudi dan simpati kepada masyarakat Palestina, bukan hanya sampai disitu, malah umat Islam (terutama mahasiswa), berdemo menentang siapapun yang memihak kepada Yahudi, sehingga Amerika menjadi sasaran karena dianggap berada di belakang Yahudi dalam kasus “Palestina”.

Di Indonesia, salah seorang yang pernah mendapat serangan kemarahan mereka adalah Gusdur, karena mengungkapkan keinginan membuka hubungan diplomatik dengan Yahudi. Gusdur pun mendapat tantangan keras karena keinginannya itu. Hal ini terjadi di kalangan masyarakat seagama terlebih lagi di kalangan masyarakat yang berbeda agama. Padahal, Palestina sama sekali tidak identik dengan Islam, karena ternyata penduduknya terdiri dari berbagai penganut agama, termasuk Kristen. Semua mereka sama-sama ikut berjuang melawan Israel.

Ini merupakan sebuah contoh saja, betapa beragamnya defenisi yang dibuat orang tentang agama, khususnya Islam. Terkadang perbedaan persepsi dikalangan masyarakat penganut agama yang sama terhadap “agamanya” bukan hanya mempersulit merumuskan jawaban dari pertanyaan di atas, -bahkan mungkin mencari jawaban itupun tidaklah begitu penting-akan tetapi hal itu selalu menjadi penyebab ketidakrukunan dikalangan masyarakat seagama.

Beberapa hal yang mungkin menyebabkan kita tidak rukun adalah:
1. Di Indonesia, kasus ketidak rukunan antar agama terjadi antara Muslim dan Kristian lebih mengemuka dibanding antara Muslim dengan masyarakat Hindu dan Budha atau antara Kristian dengan agama lainnya.
2. Sebagai agama yang serumpun dengan agama Islam, agama Yahudi tidak ada penganutnya di tanah air, tetapi issu ketidak rukunan kaum Mulim dengan Yahudi menjadi issu yang mengalihkan perhatian sehingga kasus Muslim dan kristian terabaikan sebagai kasus utama yang mesti didiskusikan menyangkut ketidak rukunan umat beragama di Indonesia.
3. Di kalangan Muslim baik kelompok intelektual maupun kelompok non intelektual masing-masing mempunyai persepsi terhadap gerakan kristian yang dipandang sebagai pemicu ketidak rukunan.
4. Di kalangan masyarakat non intelektual berkembang faham bahwa non Islam termasuk Kristian adalah orang kafir, tersesat dan bila mati pasti masuk neraka. Pandangan ini tentu bukan semata-mata berasal dari mereka sendiri, tetapi hasil pengetahuan mereka yang juga tentunya berasal dari tunjukan guru-guru agama, pengkhotbah atau ulama senior dan terakhir mungkin pula berasal dari para intelektual Muslim sendiri. Seandainya faham semacam itu berasal dari kalangan ulama atau intelektual Muslim tentulah hal itu berasal dari keyakinan teologis akibat dari pemahaman terhadap sumber dasar ajaran Islam itu yakni Al-Quran. Misalnya dalam al-Quran ada ayat yang mengungkap “Bahwa agama yang di sisi Allah adalah Islam”. Penjelasan eksklusif terhadap kata “Islam” inilah yang membuat kesan bahwa umat Islam adalah umat yang istimewa dalam pandangan Tuhan. Apalagi ditambah dengan faham bahwa kitab suci Al-Quran adalah kitab terorisinil dibanding kitab suci semua agama yang ada di dunia ini. Sejalan dengan itu ada lagi pemahaman bahwa al-Quran adalah kitab terakhir dengan Muhammad sebagai utusan Tuhan terakhir, bertugas sebagai penyempurna kitab2 sebelumnya termasuk kitab suci umat Kristian; dan lain sebagainya…Padahal di kalangan intelektual Muslim yang terhitung moderat juga mengalami krisis kecurigaan kalau tidak dapat dikatakan ketidak percayaan terhadap Kristian berkaitann dengan Missi yang di arahkan kepada masyarakat yang sudah memeluk agama terutama Islam, padahal kenyataan ini bertentangan dengan substansi hukum kita yang di dalamnya memelihara kerukunan. Perkawaninan pria Kristian dengan wanita Muslim yang kemudian berujung dengan ikutnya si wanita beserta anaknya ke agama suami atau ayahnya juga menjadi bahan ketersinggungan masyarakat Muslim sungguhpun ia di golongkan kepada Muslim intelektual. Banyak cara lain yang dilihat sebagai kekalahan mayoritas terhadap minoritas ini yang menjadi pemicu ketidakrukunan.

Kompleksitas permasalahan ini mendorong kita untuk menerangkan lebih dalam sejumlah pertanyaan, antara lain:
1. Mengapa perlu rukun ?
2. Mengapa umat beragama yang perlu rukun ?
3. Bagaimana umat beragama menerjemahkan kerukunan?
4. Bagaimana kaitan kerukunan dengan “berperang demi agama”?
5. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pemahaman umat beragama terhadap agamanya?
6. Bagaimana kaitan kerukunan dengan tingkat pengamalan umat beragama terhadap agamanya?
7. Bagaimana kaitan kerukunan dengan politisasi agama? Atau agama politis?

Agama Nasrani merupakan salah satu diantara tiga agama besar (Yahudi-Nasrani-Islam), yang oleh beberapa penulis diidentifikasi sebagai agama yang berasal dari nabi Ibrahim. Menurut Peters (1984:3) ketiga agama dimaksud disebut agama kitabiyah (scriptural religions) karena mempertahankan wahyu dalam bentuk tulisan: “the sacred writings”, “the scripture” or “the book”. Dan penganut masing-masing agama tersebut diistilahkan dengan ahl al-kitâb (people of the book). Akan tetapi kenyataannya, hanya orang Islam yang memanggil pengikut agama Yahudi dan Nasrani sebagai ahl al-kitâb. Sementara tidak didapati informasi bahwa penganut Yahudi dan Nasrani menyebut penganut agama selain agama mereka sebagai ahl al-kitâb (lihat misalnya, Nurcholish Madjid, 1995:71-2)

Konsep ahli kitab dalam Islam dipandang unik. Sebutan ahli kitab kepada Yahudi dan Nasrani dalam al-Qur’an dianggap sebagai suatu kejadian luar biasa dalam sejarah agama-agama. Dengan konsep ini Islam merupakan ajaran yang pertama sekali memperkenalkan pandangan tentang toleransi dan kebebasan beragama kepada umat manusia (Cyril Glasse, 1971:27).

Toleransi dan kebebasan beragama menurut al-Qur’an mungkin memerlukan telaahan secara serius dan mendalam, namun secara simplistik dapat dikatakan bahwa konsep tentang toleransi dalam al-Qur’an tentulah bukan hanya memuat nilai “kebebasan” yang terlepas dari nilai-nilai moral, karena elan dasar al-Qur’an adalah moral (Fazlur Rahman, 1968:36). Moral dalam bertoleransi menurut al-Qur’an metilah dalam kerangka bimbingan ilahi yang mengarah kepada pencerahan dan tegaknya tatanan kehidupan yang damai, selamat dan sejahtera.

Analisis Terhadap Pemikiran Kerukunan
Semakin hari, pemeluk agama semakin merasakan bahwa hubungan mesra dengan pemeluk agama lain, merupakan suatu hal mendesak untuk dilakukan, maka dialog dan bersikap toleran merupakan suatu unsur penting yang harus ada. Dengan demikian, makna “dakwah” atau “missi” perlu diredefenisi. Dakwah atau missi bukan lagi dimaksudkan untuk mengajak orang lain agar pindah dari satu agama tertentu kepada agama lain, tetapi bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, penghayatan dan pengamalan terhadap agama yang dianutnya. Dakwah (missi) dapat diarahkan kepada peningkatan nilai-nilai kemanusiaan.

Bahwa redefenisi terhadap dakwah (missi) merupakan salah satu upaya untuk menghilangkan pertentangan antara dakwah (missi) dengan sikap toleran dan dialog, adalah suatu harapan yang probabiliti dapat diwujudkan. Akan tetapi suatu kenyataan dalam sejarah agama-agama, bahwa tujuan dakwah (missi) selalu saja menciptakan suasana intoleransi. Harun Nasution, menyebutnya dengan istilah “niat baik yang berujung pada intoleransi”. Namun dibanding dengan agama Nasrani (Kristen), intoleransi Islam terhadap pemeluk agama lain lebih kecil dibanding intoleransi terhadap golongan-golongan Islam yang dipandang menyeleweng. Paksaan bagi orang non-Islam secara massal boleh dikatakan tidak ada. Perluasan daerah Islam ke luar semenanjung Arabia memang terjadi dengan peperangan, tetapi pemeluk-pemeluk agama lain, terutama Yahudi dan Nasrani (Kristen), di daerah-daerah itu tidak dipaksa untuk masuk Islam. Sejarah dakwah Islam sebagai yang diungkap oleh Arnold (1864-1930), menunjukkan bahwa keberhasilan dakwah Islam selalu didukung oleh situasi dan kondisi eksternal, sehingga unsur internal – misalnya sikap intoleransi – dapat ditekan. Faktor eksternal ini dapat dilihat, misalnya ketika penyebaran Islam di Persia, dakwah Islam di kalangan bangsa Mongol, India, dan lain sebagainya. Faktor eksternal ini tidak hanya terdapat pada masa setelah Nabi wafat, karena dakwah pada masa Nabi Muhammad Saw. juga didukung oleh faktor luar. Keberhasilan dakwah Nabi bukan hanya karena keagungan ajaran yang dibawanya, tetapi juga tidak terlepas dari watak orang Arab yang menginginkan perubahan dan pembaruan serta kondisi dunia Timur yang lemah dan dekaden. Dakwah Nabi di kalangan orang Yahudi Madinah ketika itupun justeru didukung oleh faktor eksternal. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa Nabi tidak melanggar rambu-rambu toleransi; yakni tidak memaksa orang lain untuk masuk ke agama Islam.

Catatan:
Tulisan ini telah diterbitkan dalam buku: Konsep Kerukunan Hidup Umat Beragama, Prof.Dr. H. M. Ridwan Lubis, dkk (editor), Bandung: Ciptapustaka Media, dan direvisi kembali untuk kebutuhan blog ini.

Referensi:

  1. Al-Qur’an
  2. Cyril Glasse. 1971. The Concise Encyclopedia of Islam. San Fransisco: Herper).
  3. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
  4. Fazlur Rahman. 1968. al-Islam. Newyork: Anchor Books
  5. F. E. Petress. 1984. Children of Abraham: Judaism, Chrstianity, Islam. New Jersey: Princeton University Perss
  6. Ismail Raji al-Faruqi. 1991. Trialogue of The Abrahamic Faiths. Herndon Virgina, USA: The International Institute of Islamic Tought.
  7. Nurcholish Madjid. 1995. Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah. Jakarta: Paramadina
  8. Saiful Mujani (ed). 1995. Islam Rasional: Gagasan Pemikiran Prof. Dr. Harun Nasution. Bandung: Mizan.
  9. Thomas. W. Arnold. 1990. The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith. Secon Edition. Delhi: Low Price Publication
  10. Lathrop Stoddard. A.M, Ph.D. 1922. The New World of Islam. London: Chapman and Hali; LTD
Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Citra Pradipta Hudoyo  On November 18, 2008 at 12:14 pm

    waah.. terima kasih sekali atas artikel nya^^
    sekali lagi terima kasih…

  • Fauzi  On Maret 11, 2009 at 3:29 am

    Alangkah lebih baiknya jika penulis dalam mengungkapkan pendapatnya dengan berlandaskan AlQuran dan juga Hadits Rasulullah dan juga pendapat para sahabat Rasul, dari sekedar mengambil sepenggal cuplikan alquran untuk membenarkan teori dari pikiran sendiri dan teori orang2 yang tidak pernah direferensikan Rasulullah untuk diikuti. Apakah referensi saudara penulis tersebut (Cyril Glasse, Fazlur Rahman, F.E Petress, dll spt disebutkan diatas) adalah lebih baik dan mulia dari Rasul dan para sahabat???
    “Tunjukilah kami jalan yang benar. Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, dan bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.” (QS Al-Fatihah 6-7)

  • Irna william  On September 22, 2010 at 11:03 am

    Ass wr.wb

    Saya ingin menanyakan kepada bapak karna ini tugas dari dosen saya pak,saya bingung karna dosen saya menugaskan saya dan teman-teman saya untuk mencari Agama-agama besar di dunia baik itu agama samawi dan agama non samawi…
    dan lebih membingungkan lagi adalah dosen saya menyuruh saya dan teman-teman saya untuk mencari 5 agama samawi dan 5 agama non samawi,sedangkan yang saya tahu dan saya dapat dari sumber internet hanya ada 3 agama samawi…
    itu aja pertanyaan saya pak mohon kiranya bapak menjawab secepatnya…Wassalam

    Irna william

  • arif  On Juli 27, 2011 at 8:52 am

    buat neng irna agama non samawi buanyak banget koq, sedang agama samawi bisa ditelusuri dari nabi ibrahim~ yang sebebenarnya juga agama tauhid yang lurus (islam) namun kitabnya saja yang beda, oleh karena itu dimasa lalu manusia cenderung lemah hingga membuat referensi sendiri berdasarkan kitab semata.buat neng irna agama non samawi buanyak banget koq, sedang agama samawi bisa ditelusuri dari nabi ibrahim~ yang sebebenarnya juga agama tauhid yang lurus (islam) namun kitabnya saja yang beda, oleh karena itu dimasa lalu manusia cenderung lemah hingga membuat referensi sendiri berdasarkan kitab semata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: