Puasa dan Kesalehan Sosial
Oleh: Mhd. Noor Sitorus
Ada yang menarik dan penting untuk kita perhatikan pada tatanan keberagamaan di masyarakat kita belakangan ini, khususnya pada tiap datangnya bulan suci ramadhan. Semarak ritual agama tampaknya begitu meriuh redah mewarnai hampir setiap sudut kota pada setiap datanganya bulan suci tersebut, bukan hanya sampai di situ saja, bahkan tayangan-tayangan yang dihadirkan oleh stasiun televisi pun hampir secara keseluruhan seolah begitu bergairahnya menghadirkan tontonan-tontonan Islami. Masyarakat Indonesia kelihatannya begitu menikmati dan menyemarakkan kegiatan untuk mengisi ramadhan dengan berbagai aktifitas bernada religi; dari mulai festival tabuh beduk sampai pusat jajanan berbasis Islam dan sinetron-sinetron religi. Sepintas lalu semua itu menggambarkan masyarakat Indonesia memang telah benar-benar menjalankan sunnah nabi untuk selalu bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
2 comments Maret 31, 2009
Kemerdekaan dalam Bingkai Nation State
Oleh: Eko Marhaendy
Tulisan sederhana ini berangkat dari sebuah fakta bahwa akhir-akhir ini wacana Syariat Islam sebagai versus ideologi Pancasila – yang dalam pandangan tertentu dianggap sekuler – kembali diperdebatkan. Perdebatan bermuara pada satu tema besar: “Formalisasi Syariat Islam”, yang kemudian melahirkan dua kubu yang saling bertolak belakang; kubu Islamisme yang pro Syariat Islam dan kubu nasionalis yang menolak formalisasi Syariat Islam. Perdebatan semacam ini sesungguhnya bukan perdebatan baru dalam perjalanan sejarah Indonesia. Tuntutan formalisasi Syariat Islam yang beberapa waktu terakhir kembali mencuat boleh dikatakan sebagai sisa sejarah yang pernah muncul diawal kemerdekaan Indonesia.
1 comment Agustus 18, 2008
Memahami Kitab-kitab “Suci” Secara non-Apologetik
Oleh: Ulil Abshar Abdalla
Saya sering terganggu oleh sikap beberapa kalangan Muslim apologetik yang dengan mudah menunjukkan adanya kontradiksi dalam Kitab Perjanjian Lama dan Baru. Dengan gigih sekali mereka mencoba memperlihatkan bahwa dalam dua kitab “suci” itu tersua sejumlah pertentangan internal.
Usaha itu bukan tanpa tujuan: yaitu untuk menunjukan kehebatan Quran sebagai Kitab “Suci” yang paling baik, solid, koheren, logis, tidak mengandung pertentangan internal apapun. Lalu mereka mengutip sebuah ayat dalam Quran yang terkenal, “Afala yatadabbarun al-Quran, wa law kana min ‘indi ghair al-Lahi lawajadu fihi ikhtilafan katsira” (4:82). Artinya: Apakah mereka tak merenungkan secara mendalam mengenai Quran itu; seandainya ia berasal dari selain Tuhan, maka sudah pasti mereka akan menjumpai banyak pertentangan di dalamnya.
1 comment Agustus 6, 2008
Kontroversi Ahmadiyah: Kebebasan Beragama atau Penodaan Agama?
Oleh: Eko Marhaendy
Koordinator JarIK Sumut
Penerbitan SKB Ahmadiyah ternyata belum dirasa cukup untuk mempertegas keberadaan Ahmadiyah di Indonesia. Padahal penerbitan SKB tersebut harus dibayar mahal mengingat insiden Monas oleh banyak kalangan dipersepsi sebagai stimuli disegerakannya penerbitan SKB tersebut. Uniknya, secara kebetulan SKB tersebut diumumkan persis sehari setelah Munarman, Panglima Komando Laskan Islam yang disinyalir bertanggung jawab pada insiden Monas, menyerahkan diri. Meski sulit disebut ironi, banyak kalangan yang memandang bahwa penyerahan diri Munarman harus dibayar dengan penerbitan SKB Ahmadiyah. Apalagi hilangnya Munarman pasca insiden Monas yang sempat menyita perhatian pubkk, melibatkan sebuah negosiasi kepada pihak kepolisian: “bubarkan Ahmadiyah sebelum ia menyerahkan diri”.
Add comment Juni 24, 2008


